Komunikasi intra budaya pada upacara adat perkawinan masyarakat Aceh di kota Banda Aceh
Disertasi ini berusaha menelaah komunikasi intrabudaya mengenai
upacara adat perkawinan masyarakat Aceh yang muncul dan berkembang di Kota ...
-
Code CallNo Lokasi Ketersediaan 01001090100017 302.259 811 Rah k/R.17.159 Perpustakaan Pusat (REF.17.159) Tersedia -
Perpustakaan Perpustakaan PusatJudul Seri -No. Panggil 302.259 811 Rah k/R.17.159Penerbit Program Pascasarjana Unpad : Bandung., 2009 Deskripsi Fisik xv,;398 hlm,;29 cmBahasa IndonesiaISBN/ISSN -Klasifikasi 302.259 811 Rah kTipe Isi -Tipe Media -Tipe Pembawa -Edisi -Subyek Info Detil Spesifik -Pernyataan Tanggungjawab Rahmawati -
Disertasi ini berusaha menelaah komunikasi intrabudaya mengenai
upacara adat perkawinan masyarakat Aceh yang muncul dan berkembang di Kota
Banda Aceh. Sasaran yang dikaji adalah esensi, fungsi dan makna simbol yang
terkandung pada pesan upacara adat perkawinan masyarakat Aceh sebagai media
komunikasi di dalam fenomena kehidupan sosial budaya.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbentuk deskriptif
yang dikemas dalam fenomenologi. Pendekatan ini, memandang bahwa fenomena
harus difaharni secara holistik, lebih mengutamakan proses daripada hasil.
Berdasarkan hasil penelitian ditemukan, bahwa prosesi upacara adat
perkawinan menjadi tradisi masyarakat telah merefleksikan berbagai simbol dari
pemberi pesan dengan mengabaikan makna penerima pesan, terutama pada
diberIangsungkanya prosesi, tradisi dan ragam adat yang mengharuskan dilakukan
walaupun tidak semua yang menjalankan ritual tersebut mampu memaharni dan
memaknai isi pesan yang terkandung di dalamnya.
Simbol dalam prosesi perkawinan diciptakan anggota masyarakat adat
sebagai media komunikasi untuk menginformasikan, sekaligus mempresentasikan
nilai, norma, adat dan kebiasaan serta kepercayaannya sebagai realitas adat yang
mengharuskan simbol pesan yang bernuansa magis tersebut dipertahankan secara
turun-temurun,
Segala simbol sebagai representasi nilai, norma, adat dan kebiasaan
masyarakat setempat mengandung kepercayaan sebagai makna pesan normatif,
baik bagi aspek religius maupun sosial budaya sehingga adat yang dipakai dalam
setiap upacara, penggunaan simbol perkawinan yang bernuansa adat dan agama
menjadi keharusan, mengingat antara adat dan agama diibaratkan zat dan sifat
yang wajib dijunjung tinggi kesakralan atau kesucianya.
Adanya perbauran budaya luar yang memasuki wilayah kebudayaan
masyarakat Aceh, berimplikasi terjadinya proses asirnilasi, akulturasi dan adaptasi
sehingga ada adat dalam prosesi upacara perkawinan dipertahankan, namun tidak
menutup kemungkinan terjadinya pengambilan adat luar untuk langkah
pembaruan.
-
Tidak tersedia versi lain
-
Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.
//






