Detail Cantuman

Image of Komunikasi intrabudaya masyarakat melayu Riau : kajian tentang pemaknaan simbol dalam revitalisasi identitas

 

Komunikasi intrabudaya masyarakat melayu Riau : kajian tentang pemaknaan simbol dalam revitalisasi identitas


Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji proses pemaknaan terhadap
simbol-simbol budaya (kebusanaan, arsitektural, kuliner, kesenian, ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    01001110100023302.222 3 Sal k/R.17.150Perpustakaan Pusat (REF.17.150)Tersedia
  • Perpustakaan
    Perpustakaan Pusat
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    302.222 3 Sal k/R.17.150
    Penerbit Program Pascasarjana Unpad : Bandung.,
    Deskripsi Fisik
    xx,;410 hlm,;29 cm
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    302.222 3 Sal k
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji proses pemaknaan terhadap
    simbol-simbol budaya (kebusanaan, arsitektural, kuliner, kesenian, kesusastraan,
    event budaya dan kewisataan), sebagai bentuk komunikasi intrabudaya dalam
    revitalisasi identitas budaya Melayu di Riau. Dalam upaya pemaknaan terse but,
    terdapat proses negosiasi dan konsolidasi diantara pengusung budayanya,
    mengingat masyarakat di Riau memiliki beberapa puak Melayu. Negosiasi dan
    konsolidasi dilakukan untuk menemukan kesatuan ide /pendapat mengenai simbol
    yang paling mewakili masyarakat dan budaya Melayu, oleh karena masyarakat
    Riau memiliki keragaman budaya (Melayu). Dengan demikian komunikasi
    intrabudaya dilakukan agar identitas kemelayuan dapat dilestarikan, mengingat
    dalam proses sejarahnya identitas budaya masyarakat Melayu di Riau pemah
    pudar. Kesadaran untuk memperoleh identitas ini merupakan latar belakang utama
    munculnya upaya revitalisasi.

    Penelitian ini bersifat kualitatif, didukung oleh metode studi kasus, yang
    menjadikan masyarakat Melayu Riau sebagai informan. Data diperoleh dengan
    . cara wawancara mendalam, observasi dan studi dokumentasi. Data-data tersebut
    dianalisis dengan cara deskriptif analisis.

    Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap simbol mempunyai
    komunikasi yang khas dan berbeda antara satu dengan yang lainnya. Kondisi ini
    sesuai dengan konteks, lingkungan, dan perkembangan simbol-simbol itu sendiri.
    Simbol-simbol budaya ini memiliki model yang berbeda-beda dalam
    pergerakannya dalam merevitalisasi diri, sesuai dengan ciri khas masing-masing
    dan cara simbol terse but bangkit dan bertahan seiring perkembangan zaman.

    Event budaya dan objek wisata sejarah religi menunjukkan model
    pertahanan maksimal (murni) karena tetap mempertahankan keasliannya. Simbol
    kebusanaan dan arsitektural merupakan model pertahanan minimal karena tidak
    dapat mempertahankan keseluruhan dirinya kecuali unsur minimal yang adaptif,
    sehingga dapat dimodifkasi. Perkembangan teknologi merupakan salah satu faktor
    yang paling berpengaruh dalam kondisi pemertahanan minimal ini. Kuliner
    merupakan simbol yang eksis menghadapi perubahan dan perkembangan zaman
    karena kemampuannya berinovasi dan mempertahankan makna fungsi-fungsi
    sosialnya, oleh karena itu simbol ini dapat dianalogikan sebagai model bejana
    besar konstrat tinggi. Sementara itu.. kesenian dan kesusastraan tidak dapat
    bertahan sekuat pariwisata karena mudah tergeser oleh arus industri hiburan,
    globalisasi, kesenian populer dan asing, dan faktor-faktor lain. Simbol ini
    mungkin bertahan jika mampumengasimilasikan unsur-unsurnya dengan unsur­
    unsur lain yang lebih adaptif dan kontekstual dengan perkembangan zaman.

    Namun, keberadaan model-model tersebut tidaklah bersifat mutlak, dan
    belum menjadi model ideal yang bisa bertahan seiring dengan perubahan dan
    perkembangan zaman.

  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi