Detail Cantuman

Image of Transnformasi Identitas REmaja Keluarga Cerai (Studi Fenomenologi Tentang Konsep Diri Remaja Melalui Komunikasi Antarpribadi Setelah Perceraian Kedua Orang Tua Di Bandung)

 

Transnformasi Identitas REmaja Keluarga Cerai (Studi Fenomenologi Tentang Konsep Diri Remaja Melalui Komunikasi Antarpribadi Setelah Perceraian Kedua Orang Tua Di Bandung)


Perceraian adalah putusnya hubungan pemikahan suami istri dalam membina
keluarga. Remaja sebagai anggota keluarga yang ikut menjadi bagian ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    01001150100081302.2 Sup T/R.17.134Perpustakaan Pusat (REF.17.125)Tersedia
  • Perpustakaan
    Perpustakaan Pusat
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    302.2 Sup T/R.17.134
    Penerbit Program Pascasarjana Unpad : Bandung.,
    Deskripsi Fisik
    xiv,;362 hlm,;29 cm
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    302.2 Sup T
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • Perceraian adalah putusnya hubungan pemikahan suami istri dalam membina
    keluarga. Remaja sebagai anggota keluarga yang ikut menjadi bagian dari perceraian
    masih minim untuk diangkat dalam penelitian-penelitian di bidang komunikasi
    antarpribadi. Maka, tujuan penelitian ini untuk mengungkapkan pengalaman dan
    pemaknaan remaja dari keluarga bercerai, serta menggali komunikasi remaja dalam
    melakukan komunikasi antarpribadi dengan ayah atau ibu sebelum dan setelah
    perceraian kedua orangtua.

    Penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan
    fenomenologi. Informan dalam penelitian ini berjumlah sepuluh remaja dari keluarga
    bercerai yang diambil secara .purposive sampling dan snowball sampling. Teknik
    pengumpulan data memakai teknik wawancara mendalam untuk menggali data dari
    infonnan.

    Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman remaja berada dalam masa
    penelantaran sebelum perceraian terjadi. Pengalaman menjadi remaja terlantar
    dikomunikasikan menggunakan bahasa mengkritik, mengabaikan, kekakuan,
    membentak orangtua, pelarian diri, dan penampilan negatif pada orangtua mereka.
    Transformasi diri remaja terIantar menjadi remaja tercerahkan terjadi setelah kedua
    orangtua akhimya memutuskan bercerai. Pengalaman menjadi remaja tercerahkan
    dikomunikasikan menggunakan bahasa motivatif, keterbukaan, mengikuti nasihat,
    penuh kenyamanan, dan penampilan positif.

    Setelah masa perceraian terjadi, remaja tidak melakukan tindakan-tindakan
    yang merugikan diri. Alih-alih mengalami pengalaman komunikasi of ens if sebelum
    perceraian kedua orangtua, remaja justru mendapatkan pengalaman komunikai
    empatik dari orangtua tunggal setelah perceraian. Mereka menjadi remaja-remaja
    yang memiliki nilai kebaikan dalam konsep diri Religius, Independen, Futuristik dan
    Maturitas.
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi