Detail Cantuman

Image of Komunikasi Visual Seni Pertunjukan Renggong Kabupaten Sumedang Interprestasi makna Visual dalam Perspektif Etnosemiotika

 

Komunikasi Visual Seni Pertunjukan Renggong Kabupaten Sumedang Interprestasi makna Visual dalam Perspektif Etnosemiotika


Kuda Renggong adalah kesenian khas Kabupaten Sumedang Provinsi
Jawa Barat. Kesenian ini berupa atraksi kuda yang bergerak seperti menari,

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    01001140100095302.2 Sup k/R.17.133Perpustakaan Pusat (REF.17.133)Tersedia
  • Perpustakaan
    Perpustakaan Pusat
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    302.2 Sup k/R.17.133
    Penerbit Program Pascasarjana Unpad : Bandung.,
    Deskripsi Fisik
    xvii,;330 hlm,;29 cm
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    302.2 Sup k
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • Kuda Renggong adalah kesenian khas Kabupaten Sumedang Provinsi
    Jawa Barat. Kesenian ini berupa atraksi kuda yang bergerak seperti menari,
    diiringi musik tradisional yang umumnya jenis musik Kendang Penca dan Tanji.
    Kesenian Kuda Renggong awalnya berkembang di Desa Cikurubuk Kecamatan
    Buahdua sejak tahun 1910, dan sampai saat kini telah menyebar ke beberapa
    wilayah di luar Sumedang, seperti Kabupaten Majalengka, Subang, Kota Bandung
    dan Kabupaten Bandung.

    Performa seni Kuda Renggong yang paling menonjol adalah unsur visual
    yang didukung unsur audiotori. Unsur visual Kuda Renggong terdiri dari; Visual
    Statis yakni visual yang bersifat artistik yakni kostum kuda beserta aksesorisnya
    yang dapat dimaknai saat diam. Visual Dinamis yakni visual yang bersifat gerak,
    berupa kinetesis aksesoris, visual yang dibentuk oleh konfigurasi dan gestikulasi
    komponen kuda, maupun rombongan secara keseluruhan, sehingga membentuk
    pose-pose ataupun pola-pola bermakna.

    Penelitian ini mengungkap makna komunikasi visual Kuda Renggong
    yang dibagi dalam empat pengadegan, yakni pra babak, babak Mapag Karuhun,
    Helaran dan Mapag Budak Kariaan. Setiap babak diambil pose-pose yang
    dianggap mewakili peristiwa penting melalui metoda framing. Hasil analisa
    framing kemudian dimaknai berdasarkan persifektif semiotik.

    Hasil penelitian menunjukkan: 1) Elemen visual berfungsi sebagai
    pembentuk narasi Pertunjukan dan menjadi sistem komunikasi. 2) Komunikasi
    disampaikan melalui Wiraga Adeg Adeg, yaitu: penampilan subjek kuda yang
    berpakaian kostum khusus dan aksesorinya yang menunjukkan peran subjek kuda
    dalam Pertunjukan. Serta pola-pola visual yang dibentuk oleh konfigurasi seluruh
    komponen Kuda Renggong yang menghasilkan makna-makna. 3) Model
    komunikasi visual yang menunjukan hubungan dengan lingkungan dan dunia
    transendental.

  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi