Detail Cantuman

Image of Gender Dalam Komunikasi di Lingkungan Pesantren

 

Gender Dalam Komunikasi di Lingkungan Pesantren


Pesantren merupakan institusi Islam tertua di Indonesia yang telah
memberikan warna pemahaman keagamaan. Peran pesantren dalam

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    01001110100216302.2 Sum g/R.17.131Perpustakaan Pusat (REF.17.131)Tersedia
  • Perpustakaan
    Perpustakaan Pusat
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    302.2 Sum g/R.17.131
    Penerbit Program Pascasarjana Unpad : Bandung.,
    Deskripsi Fisik
    xviii,;510 hlm,;29 cm
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    302.2 Sum g
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • Pesantren merupakan institusi Islam tertua di Indonesia yang telah
    memberikan warna pemahaman keagamaan. Peran pesantren dalam
    sejarahnya telah memberikan perubahan sosial secara signifikan. Akan
    tetapi cara pandang dan sistem pengajaran yang cenderung dogmatis dan
    ideologis, pesantren cenderung resistensi terhadap ide-ide modernisasi dan
    pembaharuan pemikiran Islam. Salah satu wacana ide-ide modernisasi yang
    ditolak di lingkungan Pesantren Miftahul Huda adalah gender. Gender
    dianggap tidak sesuai dengan ajaran agama. Gender dianggap budaya barat
    yang tidak selaras dengan nilai-nilai Islam. Terdapat empat masalah yang
    menyangkut bias gender di dalam komunikasi di lingkungan pesantren,
    yaitu: (a) sumber wacana ideologi bias gender; (b) agen ideologi bias
    gender; (c) komunikasi yang bias gender; (d) dan ketimpangan gender.
    Untuk menjelaskan masalah tersebut digunakan pendekatan etnografi kritis
    yaitu pengabungan antara etnografi dan teori kritis dengan landasan teori
    ideologi (ketidaksadaran mendalam), teori perforrna komunikasi
    (performance), dan teori feminis (teori gender dan muted group theory).
    Temuan penelitian menunjukan terjadinya bias gender dalam komunikasi di
    lingkungan Pesantren Miftahul Huda dalam perforrna ritual, perforrna
    sosial, hasrat, dan perforrna politis. Dampak dari bias gender dalam
    komunikasi pesantren menyebakan terjadinya ketimpangan gender yang
    merugikan perempuan, di antaranya: subordinasi perempuan, stereotip
    terhadap perempuan, kekerasan terhadap perempuan, dan ketertinggalan
    perempuan dalam penguasaan tekhnologi. Oleh karena itu untuk
    mewujudkan komunikasi yang bebas bias gender diperlukan kesadaran
    kritis. Model kesadaran kritis dapat dibangun dengan tiga langkah
    komunikasi yaitu dialog, intervensi, dan resistensi.
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi