<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="14555">
 <titleInfo>
  <title>Konstruksi komunikasi organisasi inlelijen dalam proses pengambilan keputusan  ( studi pada badan intelijen keamanan kepolisian RI)</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Kertopati, Susaningtyas Nefo Handayani</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Bandung</placeTerm>
   <publisher>Program Pascasarjana Unpad</publisher>
   <dateIssued>2011</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd"></form>
  <extent>xiii,;451 hlm,;29 cm</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Dinas-dinas intelijen adalah instrumen yang tidak dapat dipisahkan dari proses &#13;
pembuatan keputusan, hal ini terutama berlaku bagi negara-negara demokratik yang &#13;
mengutamakan tercukupinya informasi sebagai dasar pembuatan keputusan, terutama pada &#13;
area yang berkaitan dengan keamanan nasional, baik internal maupun eksternal, dan lebih &#13;
khusus lagi pada era meningkatnya kekhawatiran akan ancaman lintas batas negara termasuk &#13;
organisasi kejahatan internasional dan terorisme. Namun tidak semua dinas intelijen negara &#13;
khususnya Intelkam dapat menunjukkan peran yang optimal dalam menyediakan informasi &#13;
yang cukup bagi proses pengambilan keputusan dalam bidang keamanan nasional. &#13;
&#13;
Berdasarkan fenomena di atas, peneliti berasumsi bahwa kunci dari proses pengambilan &#13;
keputusan adalah adanya informasi yang diberikan intelijen kepada para pemegang &#13;
keputusan, ini artinya bahwa komunikasi intelijen adalah hal pokok yang mesti menjadi &#13;
landasan pengambilan keputusan yang akurat dan komprehensif. Pengambilan keputusan &#13;
dalam sebuah organisasi mempunyai arti penting bagi maju mundurnya suatu organisasi, &#13;
terutama masa depan suatu organisasi ban yak ditentukan oleh pengambilan keputusan. Proses &#13;
pengambilan keputusan sangat terkait dengan proses komunikasi yang mengalir secara &#13;
vertikal maupun horizontal dalam sebuah organisasi yang disebut dengan komunikasi &#13;
organisasi. Maka peneliti tertarik untuk mengkaji &quot;Bagaimana membangun atau &#13;
mengkonstruk komunikasi dalam tubuh organisasi yang disebut Organisasi Kepolisian &#13;
Republik Indonesia?&quot; &#13;
&#13;
Masalah konstruksi komunikasi organisasi diteliti berdasarkan paradigma kualitatif di &#13;
mana kajian penelitian ini bertujuan memperoleh pemahaman yang otentik mengenai &#13;
pengalaman orang-orang, sebagaimana dirasakan orang-orang bersangkutan melalui &#13;
pendekatan studi kasus yang bersifat deskriptif (deskriptif case studies). &#13;
&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pengambilan keputusan terjadi praktik &#13;
yang fleksibel dalam konstruksi komunikasi intelijen secara vertikal, sehingga meski secara &#13;
umum bersifat formal-vertikal, namun asas kesatuan Polri memungkinkan adanya &#13;
komunikasirnultipola, termasuk konstruksi komunikasi horizontal antar Badan atau antar &#13;
Biro. Dalam proses pengambilan keputusan, selain hal yang bersifat vertikal, kebutuhan &#13;
pendalaman sebuah data, analisa, maupun saran kebijakan membuka terjadinya peluang &#13;
berkomunikasi secara horizontal. &#13;
&#13;
Komunikasi formal dan informal dikonstruksi oleh Lembaga Intelkam POLRI dalam &#13;
proses pengambilan keputusan tentang keamanan nasionaI, di mana Komunikasi formal &#13;
dilakukan dengan cara Alur Dinamika Informasi (Dynamic Information Flow Simulation ­ &#13;
DIFS) atau model yang secara struktural menentukan efektifitas organisasi dan alur informasi &#13;
yang din am is. &#13;
&#13;
Sedangkan komunikasi informal dilakukan . melalui cara komunikasi klandestin. &#13;
&#13;
KIandestin sebagai kekhasan komunikasi informal dari intelijen merupakan organisasi &#13;
komunitas yang bekerja untuk mengumpulkan informasi. Dalam kerangka kebutuhan negara, &#13;
operasi klandestin merupakan salah satu instrumen yang digunakan untuk menyelesaikan &#13;
setiap ancaman yang dilakukan secara efektif, rahasia, dan langsung menuju sasarannya.</note>
 <note type="statement of responsibility">Kertopati, Susaningtyas Nefo Handayani</note>
 <subject authority="">
  <topic>Komunikasi, Organisasi dan I,!lelijen</topic>
 </subject>
 <classification>302.2 ker k</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>Perpustakaan Universitas Padjadjaran Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi</physicalLocation>
  <shelfLocator>302.2 Ker k/R.17.92</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">01001110100021</numerationAndChronology>
    <sublocation>Perpustakaan Pusat (REF.17.92)</sublocation>
    <shelfLocator>302.2 Ker k/R.17.92</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>scan0001.jpg.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>14555</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2017-04-01 16:18:35</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2017-07-25 13:52:50</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>