Detail Cantuman

Image of Makna, motif dan perilaku kekuasaan dalam komunikasi polittik

 

Makna, motif dan perilaku kekuasaan dalam komunikasi polittik


Penelitian ini berjudul: Makna, Motif dan Perilaku Kekuasaan Dalam
Komunikasi Politik. Studi Kasus Persaingan Politik Antar Etnik: Orang ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    01001130100030302.2 Jau m/R/17.90Perpustakaan Pusat (REF.17.90)Tersedia
  • Perpustakaan
    Perpustakaan Pusat
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    302.2 Jau m/R/17.90
    Penerbit Pascasarjana Program Doktor Ilmu Politik UNPAD : Bandung.,
    Deskripsi Fisik
    xvi,;451 hlm,;29 cm
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    302.2 Jau m
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • Penelitian ini berjudul: Makna, Motif dan Perilaku Kekuasaan Dalam
    Komunikasi Politik. Studi Kasus Persaingan Politik Antar Etnik: Orang Lampung
    dan Orang Jawa di Bandar Lampung dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah
    Bandar Lampung Tahun 2010.

    Penelitian ini bermaksud'rnenjelaskan dan mendeskripsikan makna
    kekuasaan, motif kekuasaan, perilaku kekuasaan dalam komunikasi politik oleh
    kandidat pada pemilukada Bandar Lampung 2010. Informan pokok dalam
    penelitian ini adalah enam pasang kandidat walikota, sedangkan informan kunci
    para aktivis, pengamat dan tokoh pers di Bandar Lampung. Objek penelitian ini
    adalah kompetisi politik orang J awa dan orang Lampung di Bandar Lampung,

    Penelitian interpretif ini dengan metode penelitian studi kasus dari Robert
    E. Stake, dengan skema peristiwa komunikasi politik; kompetisi antara orang
    Jawa dan orang Lampung dalam Pemilukada sebagai kasus intrinsik, pemilukada
    Bandar Lampung 2010 sebagai studi kasus instrumental, pemaknaan, motif dan
    perilaku kekuasaan, sebagai multi kasus.

    Hasil penelitian ini menunjukkan: 1) kekuasaan dimaknai sebagai sumber
    daya ekonomi sebagai pengganti alarn. Dengan pendidikan, akses kekuasaan
    dimulai melalui PNS (pegawai Negeri Sipil), partai politik, dan pemilukada.
    Pemekaran dalam otonomi daerah dimaknai sebagi diversifikasi sumber daya. 2)
    orang Lampung memiliki motif kekuasaan yang terbuka daripada orang Jawa di
    Bandar Lampung. Motif kekuasaan dalam pemilukada bagi orang Lampung
    karena interaksinya dengan orang Jawa di Lampung, semula menjadi berkah
    kemudian menjadi penjajah.

    3) Pada era Sentralistis, orang Jawa dominan atas orang Lampung dalam
    kekuasaan di Lampung, melalui pemilukada orang Lampung membuktikan
    dominasinya atas orang Jawa. 4) Orang Lampung dipersepsi sebagai pemimpin­
    penguasa, yang menghimbau tetapi memaksa, lugas, tegas dan berani,
    berkomunikasi dengan konteks rendah selaras dengan masyarakatnya. Hasilnya
    dipersepsi efektif: kota menjadi lebih teratur, dan jalan mulus. Sedangkan orang
    Jawa di Bandar Lampung dipersepsi sebagai pemimpin-manajer, yang
    memerintah tetapi menghimbau, tidak langsung dan menggunakan bahasa
    eufisme, berkomunikasi dengan konteks tinggi sedangkan masyarakatnya konteks
    rendah. Hasilnya pembangunan kota, kurang dihargai, karena kehadirannya
    kurang dirasakan.

  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi