<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="14538">
 <titleInfo>
  <title>Subyektivitas aktor politik mengkonstruksi makna pada perilaku komunikasi politik anggota DPR_RI</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Emrus</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Bandung</placeTerm>
   <publisher>Program Pascasarjana Unpad</publisher>
   <dateIssued>2009</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd"></form>
  <extent>xix,;553 hlm,;29 cm</extent>
 </physicalDescription>
 <note>SUBYEKTIVITAS AKTOR POLITIK MENGKONSTRUKSI MAKNA &#13;
PADA PERILAKU KOMUNlKASI POLITIKANGGOTA DPR-RI &#13;
(Studi Fenomenologi Terhadap Anggota DPR-RI Pada Pelaksanaan Fungsi Legislasi) &#13;
&#13;
Tujuan penelitian mengkaji konstruksi makna subyektif pada perilaku &#13;
komunikasi politik dalam pelaksanaan fungsi legislasi anggota DPR-RI. &#13;
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan tradisi fenomenologi &#13;
terhadap 38 informan yang terlibat pembahasan isi RUU Bidang Politik. Data &#13;
diperoleh melalui observasi partisipasi dan wawancara. Pada observasi partisipasi &#13;
sebagai alat utama pengumpulan data, penulis mengamati langsung pembahasan &#13;
isi RUU Bidang Politik baik pada sidang terbuka maupun tertutup. Analisis data &#13;
menggunakan deskriptif kualitatif. &#13;
&#13;
Pada disertasi ini pertanyaan penelitian. meliputi: (1) bagaimana &#13;
subyektivitas anggota Pansus DPR-RI periode 2004-2009 mengkonstruksi realitas &#13;
komunikasi politik dialogis dalam pembahasan isi RUU Bidang Politik tentang &#13;
asas dan kedaulatan partai politik; (2) Bagaimana peranan makna subyektif dan &#13;
perilaku komunikasi politik dialogis anggota Pansus DPR-RI periode 2004-2009 &#13;
pada pembahasan isi RUU Bidang Politik tentang as as partai politik dan larangan &#13;
bagi partai politik menyebarkan ajaran komunis di Indonesia; (3) bagaimana &#13;
pengelolaan kesan yang dilakukan oleh anggota Pansus DPR-RI periode 2004- &#13;
2009 dalam mengkonstruksi realitas komunikasi politik dialogis pada sidang &#13;
terbuka da~ tertutup pada pembahasan isi RUU Bidang Politik tentangpendidikan &#13;
politik; (4) mengapa subyektivitas anggota Pansus Dewan Perwakilan Rakyat &#13;
Republik Indonesia (DPR-RI) periode 2004-2009 sebagai aktor politik dapat &#13;
mengkonstruksi realitas komunikasi politik, makna subyektif dan pengelolaan &#13;
kesan pada pembahasan isi RUU Bidang Politik tentang asas dan kedaulatan &#13;
partai politik, asas partai politik dan larangan bagi partai politik menyebarkan &#13;
ajaran komunis di Indonesia, serta pendidikan politik. &#13;
&#13;
Hasil penelitian menunjukan bahwa: (1) kutub komunikasi poIitik yang &#13;
menuju arah benturan membuat tensi komunikasi meningkat antar aktor politik; &#13;
(2) kutub komunikasi politik yang menuju arah selaras membuat tensi &#13;
komunikasi menurun antar aktor politik; (3) arah kutub komunikasi politik &#13;
berbanding lurus dengan ten si komunikasi antar aktor politik; (4) partai non ke­ &#13;
agama-an lebih menginginkan Pancasila sebagai asas partai daripada partai ke­ &#13;
agama-an; (5) partai ke-agama-an lebih kuat mendukung larangan bagi partai &#13;
politik menyebarkan ajaran komunis dibanding dengan partai yang non ke-agama­ &#13;
an; (6) teritorial komunikasi politik privat mendorong proses komunikasi lebih &#13;
terbuka antar aktor politik; (7) teritorial komunikasi politik publik mendorong &#13;
proses komunikasi lebih tertutup antar aktor politik; (8) teritorial komunikasi &#13;
politik selalu bersanding dengan keterbukaan proses komunikasi para aktor &#13;
politik; dan; (9) subyektivitas aktor politik mengkonstruksi makna pada perilaku &#13;
komunikasi politik yang sesuai dengan kepentingan politiknya. &#13;
&#13;
IV &#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility">Emrus</note>
 <subject authority="">
  <topic>SUBYEKTIVITAS AKTOR POLITIK MENGKONSTRUKSI MAKNA  </topic>
 </subject>
 <classification>302.2 Emr s</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>Perpustakaan Universitas Padjadjaran Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi</physicalLocation>
  <shelfLocator>302.2 Emr s/R.17.73</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">01001090100002</numerationAndChronology>
    <sublocation>Perpustakaan Pusat (REF.17.73)</sublocation>
    <shelfLocator>302.2 Emr s/R.17.73</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>scan0001.jpg.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>14538</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2017-04-01 16:18:35</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2017-07-25 07:59:56</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>