Detail Cantuman

Image of Komunikasi Pemerintah Dalam Mengonstruksi Citra Kota Solo SEbagai Budaya Dan Pariwisata (Studi Kasus Branding Solo The Spirit Of Java)

 

Komunikasi Pemerintah Dalam Mengonstruksi Citra Kota Solo SEbagai Budaya Dan Pariwisata (Studi Kasus Branding Solo The Spirit Of Java)


u

••

ABSTRAK

Permasalahan utama yang dihadapi banyak kabupaten/kota dalam otonomi
daerah ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    01001140100003302.2 Rah K/R.21.16Perpustakaan Pusat (REF.21.16)Tersedia
  • Perpustakaan
    Perpustakaan Pusat
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    302.2 Rah K/R.21.16
    Penerbit Program Pasca Sarjana : Bandung.,
    Deskripsi Fisik
    xvii,;373 hlm,;29 cm
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    302.2
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • u

    ••

    ABSTRAK

    Permasalahan utama yang dihadapi banyak kabupaten/kota dalam otonomi
    daerah saat ini adalah bagaimana meningkatkan daya saing daerah sehingga potensi
    yang dimilikinya dapat tergarap dengan maksimal. Daya saing yang rendah antara
    lain disebabkan kurangnya pengetahuan (awarenes) investor maupun wisatawan
    terhadap potensi daerah tersebut. Salah satu upaya strategis untuk meningkatkan daya
    saing dan nilai jual potensi daerah adalah dengan melakukan upaya pencitraan
    melalui branding. Sejak tahun 2008, Kota Solo telah meluncurkan brand Solo The
    Spirit of Java dan juga diikuti dengan berbagai perubahan dan serangkaian aktivitas
    di kota Solo. Aktivitas branding kota ini memiliki kompleksitas karena memunculkan
    pro dan kontra serta tanggapan yang berbeda dari publik Kota Solo sendiri.

    Oleh karena kompleksitas dan kebaruan fenomena branding kota di
    Indonesia, peneliti tertarik untuk meneliti Kota Solo sebagai salah satu diantara
    sedikit kota yang melakukan branding di Indonesia. Penelitian ini mengkaji dinamika
    dalam proses branding di Kota Solo tersebut, khususnya melihat bagaimana
    pemerintah daerah sebagai pelaku utama branding dalam mengkonstruksi citra kota
    budaya dan pariwisata, bagaimana mereka melibatkan dukungan pemangku
    kepentingan dalam membentuk citra kota budaya dan pariwisata, serta bagaimana
    warga dan wisatawan merespon upaya branding tersebut.

    Untuk mengungkap pertanyaan tersebut penelitian ini menggunakan
    paradigma konstruktivis dengan metode kualitatif sehingga dapat menghasilkan
    pemahaman dari perspektif para pelaku. Desain studi kasus multi kasus digunakan
    untuk mendapatkan penjelasan komprehensif mengenai sebuah kasus yaitu proses
    branding Kota Solo.

    Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa branding Kota Solo merupakan
    sebuah konstruksi sosial yang diciptakan oleh pemerintah sebagai upaya untuk
    meneguhkan identitas budaya sebagai citra yang dipersepsi oleh publik. Aktivitas
    branding. secara simultan dapat dipahami sebagai bentuk ekstemalisasi, obyektivasi
    serta intemalisasi. Belum adanya perencanaan yang baku serta masih lemahnya
    koordinasi antara pemerintah dengan pelaku lainnya membuat brand kota budaya
    mengalami inkonsistensi. Pemerintah juga cenderung memutuskan sendiri dalam
    event yang dilakukan. Meskipun mengundang pemangku kepentingan untuk
    memberikan masukan, namun keputusan akhir tetap di tangan pemerintah, sehingga
    belum mencapai involvement maupun commitment. Sebagian besar wisatawan
    mengatakan kurang mendapatkan informasi terkait Kota Solo, sehingga citra yang
    terbentuk lebih merupakan citra organik dibandingkan citra ciptaan. Namun dalam
    hal ini tidak dapat perbedaan karena citra ciptaan memiliki kesamaan dengan citra
    organiknya.

    Kata Kunci: Komunikasi Pemerintah, City Branding, Pemangku Kepentingan

  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi