Detail Cantuman

Image of Dinamika perkreditan di priangan 1900 - 1942

 

Dinamika perkreditan di priangan 1900 - 1942


ABSTRAK
Penelitian ini mengkaji Dinamika Perkreditan di Priangan (1900-1942). Permasalahan pokok yang ditelaah dalam penelitian ini adalah: ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    01001120100214959.9 Han D/R.18.53Perpustakaan Pusat (REf.18.53)Tersedia
  • Perpustakaan
    Perpustakaan Pusat
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    959.8 Han d/18.53
    Penerbit Pascasarjana Universitas Padjadjaran : Bandung.,
    Deskripsi Fisik
    xxv,;451 hlm,;29 cm
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    959.8
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • ABSTRAK
    Penelitian ini mengkaji Dinamika Perkreditan di Priangan (1900-1942). Permasalahan pokok yang ditelaah dalam penelitian ini adalah: masalah keharusan kredit yang dihadapi petani, latar belakang dan pertimbangan Pemerintah Hindia Belanda mengadakan reformasi sistem kredit tradisional, respons masyarakat terhadap perkreditan formal, dampak dari perubahan sistem perkreditan terhadap masyarakat.
    Sebagai sebuah studi sejarah maka peneliti bertolak dari metode sejarah yang memiliki empat tahapan kerja, yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan penulisan. Untuk menganalisis pola perilaku ekonomi masyarakat Priangan terhadap perkreditan, dipergunakan pendekatan "Pola Perilaku Ekonomi" yang diperkenalkan oleh Karl Polanyi dan pendekatan "Tindakan Sosial" dari Max Weber.
    Sejak semakin mendalamnya penetrasi kekuasaan kolonial semakin ternyata pula betapa masyarakat Priangan semakin terbelit dalam sistem kredit untuk memenuhi kebutuhan ekonomi rumah tangga dan sosial. Sebelum reformasi perkreditan yang diperkenalkan pemerintah, aktivitas perkreditan masyarakat Priangan berlangsung melalui sistem kredit mindring, sewa dan gadai tanah, serta sistem. ijon. Setelah reformasi perkreditan diperkenalkan, aktivitas perkreditan dilakukan melalui lumbung desa, bank desa, dan bank rakyat. Lumbung desa berkembang di daerah yang penggunaan uang sebagai alat tukar masih terbatas dalam transaksi ekonomi. Bank desa berkembang di daerah yang penggunaan uang sebagai alat tukar sudah Inas dalam transaksi ekonomi. Bank rakyat berkembang di daerah yang masyarakatnya beragam di bidang pekerjaan. Simpulan yang didapat dan hasil penelitian ini adalah bahwa masyarakat Priangan dapat secara kreatif beradaptasi dengan sistem perkreditan formal yang dirintis oleh Pemerintah Hindia Belanda. Bertolak dari kearifan lokal yang telah dimiliki, masyatakat dapat melahirkan lembaga perkreditan yang sesuai dengan karakter masyarakat sendiri, yaitu kredit produktif koperasi yang didukung oleh struktur sosial dan budaya, ekonomi, serta politik. Sistem perkreditan baru ini membentuk pola perilaku ekonomi yang dinamis yang menumbuhkan jiwa kewirausahaan di kalangan masyarakat Priangan.
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi