Priangan Abad Ke 19 Dalam Arus Dinamika Sosial -Ekonomi
ABSTRAK
1. Judul Disertasi Priangan Abad ke-19 dalam Arus Dinamika
Sosial-Ekonomi
2. Subjek 1. Sejarah
-
Code CallNo Lokasi Ketersediaan 01001100100029 959.823 Zak P/R.18.52 Perpustakaan Pusat (REF.18.52) Tersedia -
Perpustakaan Perpustakaan PusatJudul Seri -No. Panggil 959.823 Zak P/R.18.52Penerbit pasca sarjana FIB : Bandung., 2010 Deskripsi Fisik xxi,;359 hlm,;29 cmBahasa IndonesiaISBN/ISSN -Klasifikasi 959.823 Zak PTipe Isi -Tipe Media -Tipe Pembawa -Edisi -Subyek Info Detil Spesifik -Pernyataan Tanggungjawab Mumuh Muhsin Zakaria -
ABSTRAK
1. Judul Disertasi Priangan Abad ke-19 dalam Arus Dinamika
Sosial-Ekonomi
2. Subjek 1. Sejarah
2, Priangan
3. Ekonomi
4. Pertanian
5. Perkebunan kopi, teh, kina.
3. Nama Mumuh Muhsin Zakaria
4. Nomor Pokok Mahasiswa 180130080004
5. Bidang Ilmu Ilmu Sejarah
6. Tim Promotor 1. Prof. Dr. Hj. Nina Herlina Lubis, M.S.
2. Prof. Dr, H. Taufik Abdullah, M.A,
3. Prof Dr. A. Sobana Hardjasaputra, M.A.
7. Tahun Kelulusan
Abstrak:
Abad ke-19 bagi Priangan khususnya dan Pulau Jawa umumnya merupakan periode ketika penetrasi kolonial semakin intens. Hal ini dilakukan melalui pelibatan hampir sebagian besar komponen masyarakat dal= mengusahakan tanaman komersial yang lake di pasar internasional, seperti nila, kopi, teh, dan kina. Namun demikian, hal tersebut tidak serta-merta mematikan aktivitas perekonomian dan pertanian subsiten penduduk Priangan. Malah yang terjadi adalah hubungan komplementer antar keduanya. Hal ini dimungkinkan selain karena faktor geografis-ekologis yang kondusif juga karena jenis tanaman yang diusahakan dan jenis tanah yang digunakan tidak menyaingi sektor ekonomi pertanian. Produk tanaman komersial dari Priangan, terutama kopi, menjadi penyumbang terbesar bagi perbendaharaan negeri induk, Belanda. Pada periode yang sama, produk tanaman pertanian, khususnya padt, juga mengalami peningkatan yang signifikan sehingga mengalami surplus. Hasilnya adalah bila sebelumnya padi merupakan tanaman berorientasi subsisten, dalam perkembangan kemudian Priangan bisa "mengekspor" padi ke wilayah keresidenan lain seperti ke Buitenzorg, Batavia, dan Cirebon.
Peran elit lokal (bupati dan staf di bawahnya) sangat besar dalam menciptakan keseimbangan dan harmonisasi relasi antar tip kelompok (penduduk pribumi, pemerintah kolonial, dan elit lokal sendiri) yang pada gilirannya berpenganth terhadap peningkatan produk dan terciptanya suasana aman, Relasi seimbang dan harmonis ini telah mampu mengakselerasi dan mendinamisasi kehidupan sosial-ekonomi masyarakat secara positif. Tipe masyarakat Priangan yang tradisional dengan sistem feodalnya menjadi landasan bangunan kemasyarakatan dan aktivitas ekonominya.
Fakta historis yang ditemukan di Priangan menjadi indikator penting yang menjelaskan derajat relatif kesejahteraan masyarakatnya, seperti pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi hasil dari meningka
-
Tidak tersedia versi lain
-
Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.
//






