Detail Cantuman

Image of Mantra sunda dalam tradisi naskah lama

 

Mantra sunda dalam tradisi naskah lama


ABSTRAK

Penelitian ini berjudul "M antra Sunda dalam Tradisi Naskah Lama:

Antara Konvensi dan Inovasi H. Persoalan ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    01001120100152810 Sur M/R.18.44Perpustakaan Pusat (REF.18.44)Tersedia
  • Perpustakaan
    Perpustakaan Pusat
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    810 Sur M/R.18.44
    Penerbit Pascasarjana Unpad : Bandung.,
    Deskripsi Fisik
    xix,;613 hlm,;29 cm
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    810
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • ABSTRAK

    Penelitian ini berjudul "M antra Sunda dalam Tradisi Naskah Lama:

    Antara Konvensi dan Inovasi H. Persoalan menarik penelitian ini karena
    ditemukannya 16 buah naskah tentang Mantra, yang sepanjang masa
    perjalanannya disalin berkali-kali dalam kurun waktu yang berbeda, sehingga
    mengundang berbagai perbedaan dalam bentuk penulisannya. Hal ini tentu saja
    memerlukan pengkajian untuk menentukan naskah 'mantra' mana yang unggul
    dan paling representatif dari sejumlah naskah mantra yang ada sebagai dasar
    suntingan teks. Naskah mantra awalnya ditulis tahun 1910 oleh Ki Suparman,
    beraksara Pegon dan berbahasa Sunda, yang mengacu kepada naskah berjudul
    Doa dan Mantra beraksara Pegon berbentuk Puisi bertitimangsa 1890 dari Pacitan
    Madiun, kernudian disalin ke dalam aksara Cacarakan dan berbahasa Sunda pada
    tahun 1960 oleh Hj. Momoh Patimah, yang dijadikan sebagai dasar kajian
    filologis penelitian ini.

    Metode deskriptif analisis komparatif yang digunakan berusaha
    mendeskripsikan data secara terinci dan teliti, menganalisisnya dengan cermat,
    serta membandingkannya secara tepat sasaran. Sedangkan metode kajiannya
    berupa metode kritik teks, mengacu kepada metode landasan, karena dari lima
    buah naskah, ada sebuah teks yang dianggap paling baik, unggul, dan lengkap,
    dilihat dari segi kualitatif maupun kuantitatifnya. Metode kajian sastra yang
    berkaitan dengan struktur, meiiputi: rima, irama, diksi, citraan, dan majas, serta
    sosiologis sastra, yang mengungkap fungsi Mantra secara pragmatis di
    masyarakat.

    Hasil suntingan teks sebanyak 407 bait teks mantra dianggap paling
    unggul dan representatif dari sejumlah naskah yang ada, yang dipandang paling
    mendekati teks asalnya, serta mudah dibaca dan dipahami oleh masyarakat masa
    kini dan masa mendatang. Adapun Mantera Aji Cakra dan Mantera
    Darmapamulih (kropak 421), dan ketiga kropak lainnya, yakni kropak 409, 413,
    dan 414, diperkirakan sebagai arketip dari naskah mantra yang ada saat ini,
    sebagaimana terungkap dalam naskah Sanghyang Siksakandang Karesian.

    Mantra dipandang sebagai 'dokumen dan kerifan lokal budaya' Sunda.

    Pcngarnal mantra beranggapan bahwa membaca mantra sama dengan membaca
    'doa'. Kajian struktur dan makna mantra telah mampu menguak eksistensi dan
    fungsi mantra dalam upaya mengungkap baik dan buruknya penggunaan mantra.
    Mantra layak disikapi secara bijak. agar Pengamal dan Bukan Pengamal Mantra
    dapat hidup berdampingan, selaras dan harmonis.

    Kata Kunci: Mantra dalam Kehidupan Masyarakat Sunda

  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi