Panggalihe pangaweruh ibadah karya Muhammad Ahmad Bin Muhammad Sadiq Cirebon: kajian pendidikan tradisional dan edisiteks
ABSTRAK
Disertasi berjudul "Panggalihe Pangaweruh Ibadah Karya Muhammad Ahmad bin Muhammad Sadiq Kajian Pendidikan Tradisional dan Edisi Teks" ...
-
Code CallNo Lokasi Ketersediaan 01001090100051 808.459 823 32 Sum p/R.18.39 Perpustakaan Pusat (REF.18.39) Tersedia -
Perpustakaan Perpustakaan PusatJudul Seri -No. Panggil 808.459 823 32 Sum p/R.18.39Penerbit Pascasarjana Unpad : Bandung., 2009 Deskripsi Fisik xv,;479 hlm,;29 cmBahasa IndonesiaISBN/ISSN -Klasifikasi 808.459 823 32 Sum pTipe Isi -Tipe Media -Tipe Pembawa -Edisi -Subyek -Info Detil Spesifik -Pernyataan Tanggungjawab Sumarsana, Ucu -
ABSTRAK
Disertasi berjudul "Panggalihe Pangaweruh Ibadah Karya Muhammad Ahmad bin Muhammad Sadiq Kajian Pendidikan Tradisional dan Edisi Teks" ini membahas naskah buah karya seorang ulama dan intelektual Islam dari desa Kejuden, Depok, Cirebon. Sebuah karya sastra kitab yang pantas diperhatikan dan disejajarkan dengan naskah lain karya ulama besar di Nusantara. Naskah "Panggalihe Pangaweruh Ibadah" (PPI) yang ditulis pada akhir abad ke-19 ditulis tangan dengan aksara Pegon, menggunakan bahasa Cirebon dan istilah-istilah keagamaan dalam bahasa Arab. Isinya mengenai agama Islam, yaitu fiqih yang membahas salat, puasa, jual beli dan hukum Islam, tauhid yang membahas balasan amal; dan akhlak yang membahas belajar dan doa.
Penelitian dilakukan dengan menggunakan beberapa pendekatan, yaitu filologi, sastra, dan pendidikan. Kajian filologi ditujukan untuk menyelamatkan naskah dari kepunahan atau terbiarkan tanpa makna. Kajian sastra ditujukan untuk mengetahui struktur teks dan hubtmgannya dengan teks-teks lain yang menjadi hipogramnya. Adapun kajian pendidikan ditujukan untuk mendapatkan kandungan makna teksnya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa PPI merupakan karya sastra kitab yang memperhatikan aspek pedagogis. Hal ini- dapat dilihat dari aspek penggunaan kalimat yang pendek namun jelas, pemakaian kata dasar yang sederhana. Dimensi pedagogis naskah PPI adalah bahan bahan ajar, sebagai pegangan guru untuk mengajar yang bersifat structural approach, hal ini menunjukkan bahwa misinya adalah penguasaan bahan oleh santri untuk menjadi seorang ahli ibadah. Teks PPI memberikan gambaran yang jelas tentang konsep pendidikan tradisional, yaitu (1) bahan disusun dengan structural aproach, (2) santri sebagai objek, (3) kurikulum bersifat rigid curriculum, (4) pembelajaran dimulai dengan proses being. Berdasarkan isinya, naskah PPI dibuat sebagai bahan ajar/persiapan mengajar guru, atau sebagai kebutuhan santri, bukan untuk kebutuhan publik. Karakteristik inilah yang cenderung ekslusif dari sebuah bahan ajar di pesantren, dan merupakan bagian dari ciri pendidikan tradisional. Setiap pesantren memiliki bahan ajar yang khas atau tersendiri sehingga antara pesantren yang satu dengan pesantren yang lain tidak ada kaitannya dalam konteks materi yang diajarkan, bahkan cenderung bersifat rahasia meski sama-sama bersumber dari Al Qur'an dan Al Hadis serta qaul ulama. Bahan ajar dalam PPI dirumuskan untuk santri tahap dasar sehingga disajikan tanpa rujukan dasar pengambilan hukumnya, serta tidak diajarkan peran individu dalam wilayah publik seperti halnya bagaimana menjadi imam salat, menjadi khatib jumat, atau haji dan zakat tidak menjadi bagian yang diajarkan dalam PPI.
Dalam konteks kekinian, bahan ajar yang esensial dan komprehensif, sebagaimana halnya dalam PPI, meski dalam konteks pendidikan tradisional dapat menjadi rujukan pada pendidikan masa kini. Demikian pula, proses pembiasaan mendahului latihan dan pemahaman dalam proses pembelajaran di pesantren dapat dijadikan alternatif model pembelajaran yang bernuansa keyakinan dan moral. Oleh karma itu, pendidikan tradisional, seperti halnya pesantren sebagai pendidikan yang berbasis kemasyarakatan, merupakan bagian dari suatu proses terwujudnya pendidikan modern. Apa pun yang diajarkan pada zaman dahulu dan sampai sekarang esensinya tetap sama, yaitu mendidik manusia agar iman dan takwa, berakhlak mulia, yang dapat memahami keberadaannya sebagai manusia dan dapat hidup sebagai bagian dari anggota masyarakat dan warga negara yang balk.
-
Tidak tersedia versi lain
-
Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.
//






