Detail Cantuman

Image of Problem keminangan dalam cerpen

 

Problem keminangan dalam cerpen "robohnja surau kami karya A.A. Navis Tinjauan semiotika budaya


Problem adat dan agama di Minangkabau diselesaikan dalam slogan octal bersendi syarak, syarak hersendikan kitahullah. Sebuah slogan berwajah ganda. ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    01001120100092401.4 Sul p/R.18.18Perpustakaan Pusat (REF.18.18)Tersedia
  • Perpustakaan
    Perpustakaan Pusat
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    401.4 Sul p/R.18.18
    Penerbit Pascasarjana Unpad : Bandung.,
    Deskripsi Fisik
    xv,;337 hlm,;29 cm
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    401.4
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    -
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • Problem adat dan agama di Minangkabau diselesaikan dalam slogan octal bersendi syarak, syarak hersendikan kitahullah. Sebuah slogan berwajah ganda. Slogan itu dibungkus dalarn perumpamaan yang dipertahankan sebagai konsep
    Sulit dibayangkan adat bersistem matrilinial hergandengan tangan dengan agama yang patrilinial, kedua konsep secara ideal seolah-olah berjalan beriringan. Akan tetapi, ada yang tidak terlihat yakni `cermin ingatan' (a mirror with memory) yang direpresentasikan teks "Robohnja Surau Kami". Teks mengangkat problem tokoh lelaki yang tinggal di sebuah surau, Tokoh secara implisit berhadapan dengan kedua slogan tersebut yang sebagai sebuah laku 'mimesis' menunjukkan ada yang dianggap `persis' dan `tidak persis'. Slogan dan konsep keagamaan yang kabur, samar, dan tidak jelas dibungkus dalam penggunaan bahasa yang ohskurantisme dengan kelemahan pemikiran bahasa secara logis. Problem dianalisis dengan menggunakan pendekatan semiotika yang mengangga.p tanda bukan hanya benda, budaya, peristiwa, sistem, serta kebiasaan masyarakat juga bisa ditafsirkan sebagai tanda. Suatu sikap keagamaan yang tidak memberi ruang dialog tentu akan memunculkan klaim kemuthkan. Tanda dialog dalam RSK dianggap sebagai sebuah bentuk kelihaian, kekuatan dan kepalsuan tokoh ketika ,berhadapan dengan kedua sistem tersebut.
    Selanjutnya, tanda semiotik dianalisis membuka peluang, terjadi perasaan;
    bertoleransi versus intoleransi, diberlakukan adil versus ketidakadilan, revolusi versus resolusi, ketakutan versus bernostalgia terhaclap sistirn matrilinial tersebut. Untuk menjawab seperti apa terjadi perubahan dan pergeseran pemaknaan diperlihatkan oleh salah satu tanda dalam kata, sink, saliah, malin, katik, bila dan mitos (Jngku Saliah.
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi