<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="14436">
 <titleInfo>
  <title>Problem keminangan dalam cerpen &quot;robohnja surau kami karya A.A. Navis  Tinjauan semiotika budaya</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Sulastri</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Bandung</placeTerm>
   <publisher>Pascasarjana Unpad</publisher>
   <dateIssued>2012</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd"></form>
  <extent>xv,;337 hlm,;29 cm</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Problem adat dan agama di Minangkabau diselesaikan dalam slogan octal bersendi syarak, syarak hersendikan kitahullah. Sebuah slogan berwajah ganda. Slogan itu dibungkus dalarn perumpamaan yang dipertahankan sebagai konsep&#13;
Sulit dibayangkan adat bersistem matrilinial hergandengan tangan dengan agama yang patrilinial, kedua konsep secara ideal seolah-olah berjalan beriringan. Akan tetapi, ada yang tidak terlihat yakni `cermin ingatan' (a mirror with memory) yang direpresentasikan teks &quot;Robohnja Surau Kami&quot;. Teks mengangkat problem tokoh lelaki yang tinggal di sebuah surau, Tokoh secara implisit berhadapan dengan kedua slogan tersebut yang sebagai sebuah laku 'mimesis' menunjukkan ada yang dianggap `persis' dan `tidak persis'. Slogan dan konsep keagamaan yang kabur, samar, dan tidak jelas dibungkus dalam penggunaan bahasa yang ohskurantisme dengan kelemahan pemikiran bahasa secara logis. Problem dianalisis dengan menggunakan pendekatan semiotika yang mengangga.p tanda bukan hanya benda, budaya, peristiwa, sistem, serta kebiasaan masyarakat juga bisa ditafsirkan sebagai tanda. Suatu sikap keagamaan yang tidak memberi ruang dialog tentu akan memunculkan klaim kemuthkan. Tanda dialog dalam RSK dianggap sebagai sebuah bentuk kelihaian, kekuatan dan kepalsuan tokoh ketika ,berhadapan dengan kedua sistem tersebut.&#13;
Selanjutnya, tanda semiotik dianalisis membuka	peluang, terjadi perasaan;&#13;
bertoleransi versus intoleransi, diberlakukan adil versus ketidakadilan, revolusi versus resolusi, ketakutan versus bernostalgia terhaclap sistirn matrilinial tersebut. Untuk menjawab seperti apa terjadi perubahan dan pergeseran pemaknaan diperlihatkan oleh salah satu tanda dalam kata, sink, saliah, malin, katik, bila dan mitos (Jngku Saliah.&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility">Sulastri</note>
 <classification>401.4</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>Perpustakaan Universitas Padjadjaran Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi</physicalLocation>
  <shelfLocator>401.4 Sul p/R.18.18</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">01001120100092</numerationAndChronology>
    <sublocation>Perpustakaan Pusat (REF.18.18)</sublocation>
    <shelfLocator>401.4 Sul p/R.18.18</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>scan0001.jpg.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>14436</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2017-04-01 16:14:29</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2017-07-04 08:28:09</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>