<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="14285">
 <titleInfo>
  <title>Pengaruh komunikasi pemasaran terpadu berbasis etika dalam menciptakan nilai pelanggan dan implikasinya terhadap loyalitas pelanggan susu formula bayi di Indonesia</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>AGUS NURUDIN</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Bandung</placeTerm>
   <publisher>Program Doktor Ilmu Ekonomi Unpad</publisher>
   <dateIssued>2012</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd"></form>
  <extent>xiv,;261 hlm,;29 cm</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Bayi pada saat lahir akan membutuhkan air susu ibu (ASI) atau susu formula bayi. &#13;
&#13;
Susu formula bayi (khusus untuk bayi mulai dari 0-1 tahun) merupakan industry yang &#13;
menarik dan spesifik. Pertumbuhan yang tinggi dan karakteristik pemasaran produk yang &#13;
harus mematuhi kode etik dari World Health Organization (WHO) dan Kepmenkes &#13;
memberikan proteksi agar bayi mendapatkan ASI. Keputusan pemakaian susu formula &#13;
bayi hanya boleh dilakukan oleh orang yang mengetahui kondisi kesehatan bayi yaitu &#13;
tenaga kesehatan. WHO mengeluarkan kode etik pemasaran pengganti ASI, dan Menkes &#13;
Republik Indonesia memperkuat dengan mengeluarkanKepmenkes 237/IV/MenkesI1997 &#13;
dan 450/IV/Menkes/ 2004. Persaingan yang tinggi memicu komunikasi pemasaran &#13;
terpadu bersaing semakin ketat dengan kreatifitas dan tingkat komitmen yang berbeda­ &#13;
beda pada perusahaan didalam menyikapi &quot;kode etika&quot; yang mengatur. Hal ini menjadi &#13;
tidak lebih baik karena kurang ada penegakan didalam etika dan adanya saling &#13;
membutuhkan antara pelanggan/tenaga kesehatan sebagai rekomendator dan perusahaan. &#13;
&#13;
Penelitian dilakukan untuk mengkaji komunikasi pemasaran terpadu berbasis &#13;
etika dalam menciptakan nilai pelanggan dan dampaknya pad a loyalitas pelanggan pada &#13;
susu formula bayi di Indonesia. Survey dilakukan di Jakarta, Surabaya, Makassar dan &#13;
sekitamya. Tujuan penelitian adalah untuk menghasilkan kajian tentang pengaruh &#13;
komunikasi pemasaran terpadu berbasis etika dalam menciptakan nilai pelanggan dan &#13;
dampaknya terhadap loyalitas pelanggan. Unit analisisnya adalah tenaga kesehatan yaitu &#13;
dokter, dokter anak, bidan dan perawat. &#13;
&#13;
Metode penelitian dilakukan dengan wawancara ke pelaku industry untuk &#13;
menggali kedalaman fenomena dalam industry dan dilakukan survey untuk mendapatkan &#13;
data primer di tenaga kesehatan. Pengambilan sample dilakukan dengan random &#13;
sampling dan stratified random sampling di Jakarta, Surabaya, Makassar dan sekitamya &#13;
pada bidan, dokter, dokter anak dan perawat. Hasil pengumpulan data primer dikaji &#13;
diolah menggunakan structural equation modeling (SEM) dengan Lisrel 8.70. &#13;
&#13;
Hasil kajian menunjukkan bahwa komunikasi pemasaran terpadu berbasis etika &#13;
menunjukkan pengaruh positif langsung yang signifikan pada nilai pelanggan dengan &#13;
koefisien 0,912 (t hitung 10,29 ~ 1,96). Komunikasi pemasaran terpadu berbasis etika &#13;
secara langsung tidak berpengaruh secara signifikan terhadap loyalitas pelanggan &#13;
(koefisien hanya 0.009 dan t hitung 0.041 :s 1,96). Pengaruh tidak langsung komunikasi &#13;
pemasaran terpadu berbasis etika ke loyalitas pelanggan mempunyai koefisien tinggi &#13;
0,849 dan secara keseluruhan mempunyai koefisien 0,858 dengan koefisien determinasi &#13;
0,882 artinya variable komunikasi pemasran berbasis etika melalui nilai pelanggan &#13;
mampu menjelaskan pengaruh pada variable loyalitas pelanggan sedangkan sisanya &#13;
dipengaruhi oleh variable lain yang tidak diukur dalam penelitian. Nilai pelanggan &#13;
berpengaruh positif langsung secara significant terhadap loyalitas pelanggan dengan &#13;
koefisien 0,931 (t hitung 4,075 ~ 1,96).</note>
 <note type="statement of responsibility">NURUDIN AGUS</note>
 <subject authority="">
  <topic>Komunikasi pemasaran terpadu, etika, nilai pelangg</topic>
 </subject>
 <classification>658.802 Nur p</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>Perpustakaan Universitas Padjadjaran Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi</physicalLocation>
  <shelfLocator>658.802 Nur p/R.12.296</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">01001120100022</numerationAndChronology>
    <sublocation>Perpustakaan Pusat (REF.12.296)</sublocation>
    <shelfLocator>658.802 Nur p/R.12.296</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>20%252Fscan0001.jpg.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>14285</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2017-04-01 16:08:38</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2017-09-19 09:21:41</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>