Detail Cantuman

Image of Dampak manajemen konflik perusahaan perkebunan dengan masyarakat sekitar terhadap kinerja perusahaan di tingkat kebun (studi kasus di perkebunan tambaksari PTPN VIII)

 

Dampak manajemen konflik perusahaan perkebunan dengan masyarakat sekitar terhadap kinerja perusahaan di tingkat kebun (studi kasus di perkebunan tambaksari PTPN VIII)


Selama ini, konflik yang terjadi di perusahaan perkebunan Tambaksari
PTPN VIII dengan masyarakat sekitamya hanya dikelola secara crash

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    01001120100137630 Tri d/R.15.50Perpustakaan Pusat (REF.15.50)Tersedia
  • Perpustakaan
    Perpustakaan Pusat
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    630 Tri d/R.15.50
    Penerbit Program Pascasarjana Unpad : Bandung.,
    Deskripsi Fisik
    xv,;288 hlm,;29 cm
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    630 Tri d
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • Selama ini, konflik yang terjadi di perusahaan perkebunan Tambaksari
    PTPN VIII dengan masyarakat sekitamya hanya dikelola secara crash
    programme. Perusahaan dituntut untuk menerapkan model manajemen konflik
    dengan tepat.

    Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji (1) faktor pendorong terjadinya
    konflik antara pihak perusahaan perkebunan dengan masyarakat sekitarnya, (2)
    penerapan manajemen konflik yang telah dilakukan oleh perusahaan perkebunan,
    (3) dampak manajemen konflik yang diterapkan perusahaan perkebunan
    terhadap kinerja perusahaan di tingkat kebun, dan (4) merancang model
    manajemen konflik yang sesuai bagi perusahaan perkebunan.

    Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi
    kasus. Teknik pengumpulan data menggunakan (a) observasi, (b) wawancara dan
    (c) studi dokumentasi. Selanjutnya, data yang terkumpul dicek keabsahannya
    dengan menggunakan teknik triangulasi.

    Hasil penelitian menunjukkan 1) Faktor kebutuhan masyarakat sekitar
    perkebunan akan lahan garapan, rendahnya pendapatan masyarakat, kurangnya
    respon perusahaan perkebunan terhadap keinginan masyarakat, adanya lahan
    tidur milik perusahaan perkebunan, dan lamanya proses pengurusan perpanjangan
    HGU memicu terjadinya konflik antara perusahaan perkebunan dengan
    masyarakat sekitar; 2) Manajemen konflik yang diterapkan oleh perusahaan
    perkebunan masih belum tepat, karena hanya menerapkan model akomodasi,
    kompromi, dan tindakan represif yang hanya dapat menekan konflik sementara
    waktu, sedangkan penanaman tanaman KKE dapat menimbulkan konflik baru;
    3) Kurang tepatnya perusahaan perkebunan dalam menerapkan manajemen
    konflik terhadap masyarakat sekitar telah berdampak pada kinerja perusahaan
    yang rendah. Hal ini dapat dilihat dari bertambahnya lahan perkebunan yang
    digarap masyarakat, Masyarakat merubah sendiri jenis tanaman yang telah
    disepakati bersama, terjadi alih garap, dan sulitnya pencapaian target produksi teh
    sebagai akibat penanaman pohon KKE; dan 4) Model manajemen konflik yang
    sesuai bagi perusahaan perkebunan adalah Kolaborasi Sinergisme Berbasis
    Potensi Lokal.
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi