Detail Cantuman

Image of Respon kacang tanah ( Arachis Hypogaea L.) kultivar lokal asal Banten terhadap inokulasi mikoriza pada tanah dengan variasi ketersediaan air selama fase generatif

 

Respon kacang tanah ( Arachis Hypogaea L.) kultivar lokal asal Banten terhadap inokulasi mikoriza pada tanah dengan variasi ketersediaan air selama fase generatif


Penelitian dilaksanakan dengan tujuan untuk: (1) mengkaji respons kacang
tanah kultivar Iokal asal Banten yang tercekarn kekeringan selarna ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    01001110100167633.3 Rus r/R.15.69Perpustakaan Pusat (REF.15.69)Tersedia
  • Perpustakaan
    Perpustakaan Pusat
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    633.3 Rus r/R.15.69
    Penerbit Program Pascasarjana Unpad : Bandung.,
    Deskripsi Fisik
    xx136 hlm,;29 cm
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    633.3 Rus r
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • Penelitian dilaksanakan dengan tujuan untuk: (1) mengkaji respons kacang
    tanah kultivar Iokal asal Banten yang tercekarn kekeringan selarna fase generatif,
    (2) mengkaji respons kacang tanah kultivar lokal dengan toleransi bervariasi
    terhadap cekaman kekeringan seIama fase generatif terhadap inokuIasi Fungi
    Mikoriza Arbuskula (FMA), dan mendapatkan dosis FMA yang mernberikan
    hasil tertinggi dicapai oleh kultivar lokal kacang tanah pada kondisi cekaman
    kekeringan bervariasi, dan (3) mengkaji respons kacang tanah kultivar lokal yang
    diinokulasi FMA terhadap kekeringan di lapangan. Penelitian telah dilakukan tiga
    tahap. Tahap pertarna dan kedua rnerupakan penelitian dalarn pot ditempatkan di
    rumah kaca Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanarnan Pangan dan
    Hortikultura, Dinas Pertanian dan Petemakan Propinsi Banten dari bulan Juli
    sampai Nopember 2009. Penelitian tahap ketiga merupakan penelitian lapangan
    di Desa Sukararne, Kecarnatan Cikeusal, Kabupaten Serang dari bulan Oktober
    2010 sarnpai Pebruari 2011.

    Percobaan tahap pertama rnenggunakan Rancangan Petak Terpisah (Split
    Plot Design). Petak Utarna: kultivar lokal kacang tanah, terdiri atas 14 kultivar
    asal Cikeusal, Bojonegara, Petir, Pulo Ampel, Walantaka, Taktakan, Purwakarta,
    Menes, Cibaliung, Bayah, Anyar, Malingping, Cikeusik, dan Cisoka. Anak Petak:
    kadar air tanah, terdiri atas 100%, 75%, dan 50% air tanah tersedia. Kombinasi
    perlakuan diulang 3 kali. Percobaan tahap kedua menggunakan Rancangan Petak
    Terbagi (Split-split Plot Design), Petak Utama: kultivar lokal kacang tanah
    terseleksi terhadap level kekeringan, yaitu kultivar Petir (toleran kekeringan),
    kultivar Cikeusal (cukup toleran kekeringan), dan kultivar Malingping (peka
    kekeringan). Anak Petak: kadar air tanah, yaitu 100%., 75%, dan 50% air tanah
    tersedia. Anak-anak Petak: dosis FMA, yaitu 0 t ha-I, 5 t ha", 10 t ha-I, dan
    ]5 t ha". Kombinasi perlakuan diulang 3 kali. Percobaan tahap ketiga
    menggunakan Rancangan Acak Kelompok pola Faktorial, terdiri atas 2 taraf
    faktor. Faktor pertama: kultivar kacang tanah lokal terseleksi terhadap level
    kekeringan, yaitu: kultivar Petir, Cikeusal, dan Malingping. Faktor kedua: dosis
    FMA 0 t ha" dan 5 t ha-I. Kornbinasi perlakuan diulang 4 kali.

    Hasil percobaan tahap pertama di rumah kaca, menunjukkan bahwa
    keempat belas kultivar lokaI kacang tanah asal Banten memiliki toIeransi yang
    berbeda terhadap cekarnan kekeringan selama fase generatif, berdasarkan variabel
    rasio pupus akar, kandungan prolin daun, jumlah polong, bobot polong, dan bobot
    biji. Kultivar lokal asal Petir, Taktakan, dan Purwakarta tergolong toleran
    berdasarkan variabel rasio pupus akar. Selain itu, kultivar lokal asal Purwakarta
    tergolong toleran berdasarkan kandungan proIin daun. Secara umum kultivar
    lokal asal Taktakan lebih toleran dibandingkan dengan asal Petir dan Purwakarta.

    Hasil percobaan tahap kedua di rurnah kaca, menunjukkan bahwa kacang
    tanah kultivar Iokal asal Banten dengan toleransi yang berbeda terhadap cekarnan
    kekeringan memberikan respons yang berbeda terhadap pemberian inokulasiFMA dan perbedaan itu bervariasi pada ketersediaan air tanah yang berbeda
    berdasarkan variabel rasio pupus akar, jumlah polong, jumlah biji, bobot polong,
    dan bobot biji. Pemberian inokulan FMA dosis 5 t ha" pada tanaman kacang
    tanah di rumah kaca membeiikan bobot polong dan basil bobot biji tertinggi
    dibandingkan dengan dosis 10 t ba-1 dan 15 t ba-r untuk ketiga kelompok kultivar
    (toleran, cukup toleran, dan peka terhadap cekaman kekeringan) pada ketersedian
    air tanah 100 %, 75 %, dan 50 %. Bobot biji kultivar toleran lebih tinggi
    dibandingkan dengan kultivar cukup toleran dan kultivar peka terhadap cekaman

    kekeringan. .

    Hasil percobaan tahap ketiga, menunjukkan bahwa kacang tanah kultivar
    lokal asal Banten dengan toleransi yang berbeda terhadap cekaman kekeringan
    yang ditanam di lapangan dan diinokulasi FMA dosis yang memberikan hasil
    tertinggi, memberikan respons yang berbeda. Bobot polong dan bobot biji
    meningkat dengan pemberian FMA baik pada kultivar yang toleran, cukup
    toleran, maupun peka.
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi