
Text
Pengaruh Penyinaran Netron Cepat Terhadap Metabolit Sekunder Halus Temu Lawak (Curcuma Xanthorrhiza Roxb).
Temulawak merupakan tanaman asli Indonesia yang berpotensi sebagai tanaman obat yang mengandung kurkuminoid dan minyak atsiri yang berkhasiat untuk ...
-
Code CallNo Lokasi Ketersediaan 01021891000008 Tersedia -
Perpustakaan Fakultas FarmasiJudul Seri -No. Panggil 676Penerbit : ., 1989 Deskripsi Fisik -Bahasa IndonesiaISBN/ISSN -Klasifikasi 676Tipe Isi -Tipe Media -Tipe Pembawa -Edisi NULLSubyek Info Detil Spesifik -Pernyataan Tanggungjawab NULL -
Temulawak merupakan tanaman asli Indonesia yang berpotensi sebagai tanaman obat yang mengandung kurkuminoid dan minyak atsiri yang berkhasiat untuk gangguan aliran getah empedu dan antihepatotoksik.
Perbanyakan tanaman secara Invitro telah berkembang dan telah diketahui bahwa kultur sel dapat menghasilkan senyawa yang bermanfaat seperti yang terdapat pada tanaman alamnya. Kultur tunas rimpang temulawak pada media RN (1968) yang diperkaya dengan zat pengatur tumbuh NAA dan 6-BAP menghasilkan kalus. Kalus yang diperoleh dari percobaan di bagi 2 kelompok.
Kelompok pertama tanpa disinari (kalus kontrol) dan kelompok kedua disinari dengan netron cepat dosis 500 dan 1000 rad nf. Kedua jenis kalus tersebut dianalisis untuk mengetahui kandungan metabolit sekundernya yang dibandingkan dengan kurkuminoid dan minyak atsiri adri rimpang.
Dari hasil analisis baik dengan kromatograpi lapis tipis maupun kromatograpi gas, umumnya untuk minyak atsiri memberikan data sebagai berikut :
a. Rimpang temulawak memperlihatkan komponen minyak atsiri yang cukup banyak ragamnya, data kromatografi gas menunjukan 32 puncak dan data kromatografi lapis tipis diperoleh 7 bercak.
b. Kalus kontrol dan kalus yang disinari netron cepat pada dosis 500 dan 1000 rad nf, data kromatografi gas menunjukan 4, 3 dan 2 puncak sedangkan data kromatografi lapis tipis diperoleh 3 bercak.
Sedangkan untuk kurkuminoid dilakukan analisis dengan kromatografi lapis tipis dan spektrofotometri sinar tampak.
a. Rimpang temulawak memperlihatkan serapan maksimum kurkuminoid pada l = 424 dan 429 nm dan data kromatografi lapis tipis menunjukan 2 bercak.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pada kalus kontrol dan kalus yang disinari netron cepat menghasilkan tabolit sekunder yang jenis komponennya baik untuk minyak atsiri maupun kurkuminoid berbeda dengan rimpang temulawak. Oleh karenanya penelitian temulawak secara in vitro masih perlu dilanjutkan dengan beberapa perubahan kondisi. -
Tidak tersedia versi lain
-
Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.
//






