Aktivitas ekstrak protein biji kedelai (glycine max L' Merr) varietas detam 1 terhadap pengendalian berat badan dan peningkatan kadar kolesistokinin melalui mekanisme aktivitas mitogen activated protein kinase (MAPK) pada tikus wistar jantan
ABSTRAK
Prevalensi obesitas di dunia saat ini sangat meningkat dan populasinya meluas. Hal ini perlu ditangani dengan baik dan usaha yang ...
-
Code CallNo Lokasi Ketersediaan 01001110100049 572.6 Hid a / R.13.2 Perpustakaan Pusat (Ref. 13.2) Tersedia -
Perpustakaan Perpustakaan PusatJudul Seri -No. Panggil 572.6 Hid a / R.13.2Penerbit Program Pasca Sarjana : Bandung., 2011 Deskripsi Fisik xxviii,;252 hlm,;29 cmBahasa IndonesiaISBN/ISSN -Klasifikasi 572.6Tipe Isi -Tipe Media -Tipe Pembawa -Edisi -Subyek Info Detil Spesifik -Pernyataan Tanggungjawab Hidayat , Meilinah -
ABSTRAK
Prevalensi obesitas di dunia saat ini sangat meningkat dan populasinya meluas. Hal ini perlu ditangani dengan baik dan usaha yang dilakukan antara lain dengan mencari zat atau yang dapat menurunkan berat badan dengan aman. Hasil penelitian para ahli menyebutkan bahwa kedelai mempunyai efek menurunkan berat badan. Protein dalam kedelai, 3 conglycinin sub unit p sekuens 51-63 merupakan komponen yang paling mempunyai efek antiobesitas dengan cara menekan keinginan makan melalui stimulasi pengeluaran Kolesistokinin (KSK). KSK merupakan hormon dalam saluran pencernaan yang dikeluarkan sebagai respon asupan protein dan lemak serta mempunyai efek menekan keinginan makan jangka pendek. Protein hidrolisat merangsang pengeluaran KSK di duodenum melalui jalur transduksi sinyal GPCR. Penelitian mengenai kedelai varietas Indonesia dalam hubungannya dengan KSK belum banyak dilakukan. Salah satu varietas unggulan di Indonesia adalah Detam I yaitu kedelai berkualitas tinggi yang sudah diakui oleh Menteri Pertanian RI. Ekstrak biji protein biji kedelai Detam I dengan metode Deak mengandung kadar 13 conglycinin yang tinggi (SDS PAGE pewarnaan CBB), namun tidak mengandung isoflavon (HPLC). Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh berbagai dosis dan pola pemberian ekstrak protein kedelai Detam 1 selama 28 hari terhadap asupan pakan, berat badan, lingkar pinggang, berat organ-organ penting, kadar lipid serum, kadar KSK plasma dan potensinya dibandingkan sibutramine, serta peningkatan aktivitas transduksi sinyal KSK pada duodenum idols Wistar jantan. Penelitian dilakukan terhadap 11 kelompok tikus masing-masing 3 ekor, yaitu 3 kelompok diberi ekstrak dosis 5 mg/ekor, 3 kelompok dosis 10mWekor, 3 kelompok dosis 20mg/ekor, masing-masing dengan pola pemberian 1 kali, 2 kali dan 3 kali sehari, dan 1 kelompok kontrol negatif (akuades) serta 1 kelompok kontrol pembanding (Sibutramine). Parameter yang diukur adalah perubahan jumlah asupan pakan (g), perubahan berat badan (g), lingkar pinggang (cm), berat organ-organ penting (g), kadar lipid serum dengan metode kolorimetri (g/dl), pengukuran kadar KSK plasma dengan metode ELISA (ng/ml), aktivitas jalur transduksi sinyal dengan Western blotting. Data dianalisis menggunakan ANAVA, uji lanjut Duncan dan uji t tidak berpasangan. Hasil yang didapat: kelompok yang menunjukkan persentase perubahan asupan pakan paling balk: kelompok 3,4mg/ekor 3x sehari (p -
Tidak tersedia versi lain
-
Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.
//






