Gabungan derajat anemia, indeks massa tubuh, dan jumlah CD4 sebagai petunjuk peluang kematian pada penderita HIV-AIDS
ABSTRAK
Prevalensi anemia pada penderita infeksi-HIV berkisar antara 1,3 % sampai 95% tergantung dari stadium penyakitnya. Banyak faktor yang ...
-
Code CallNo Lokasi Ketersediaan 01001100100072 616.979 2 Sum g/R.13.86 Perpustakaan Pusat (REF.13.86) Tersedia -
Perpustakaan Perpustakaan PusatJudul Seri -No. Panggil 616.979 2 Sum g /13.86Penerbit Program Pasca Sarjana : Bandung., 2010 Deskripsi Fisik xvi,;155 hlm,;29 cmBahasa IndonesiaISBN/ISSN -Klasifikasi 616.979 2 Sum gTipe Isi -Tipe Media -Tipe Pembawa -Edisi -Subyek Info Detil Spesifik -Pernyataan Tanggungjawab Sumantri, Rachmat -
ABSTRAK
Prevalensi anemia pada penderita infeksi-HIV berkisar antara 1,3 % sampai 95% tergantung dari stadium penyakitnya. Banyak faktor yang menyebabkan anemia, serta anemia meningkatkan morbiditas dan mortalitas pada penderita HIV-AIDS. Anemia merupakan faktor risiko independen untuk kematian disamping jumlah CD4 dan viral load. Penelitian tentang anemia pada penderita HIV-AIDS di Indonesia belum banyak dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan anemia terhadap prognosis penderita HIV-AIDS di Indonesia. Dilakukan penelitian potong lintang dan kohor di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Subjek penelitian adalah semua penderita infeksi HIV pada tahun 2008, yang diamati selama 6 bulan. Pada semua subjek dilakukan wawancara, pemeriksaan fisis, pemeriksaan laboratorium, dan foto toraks, setelah mengisi surat persetujuan. Variabel penelitian adalah umur, jenis kelamin, indeks massa tubuh (IMT), intra venous drug user (IOU), antiretroviral, stadium klinis WHO, pencegahan PCP (Pneumocystis Carinii Pneumonia) dengan kotrimoksazol, riwayat atau pengobatan tuberkulosis, kandidiasis oral, anemia, adherence, CD4, dan viral load. Pada hasil penelitian didapatkan 534 penderita HIV-AIDS, sebanyak 222 masuk kelompok anemia (41,6%). Sebanyak 84,7% anemia ringan (Hb 10-12/14), sedangkan 12,6% anemia sedang (Hb 7-10), dan 2,7% anemia berat. Etiologi anemia yaitu anemia penyakit kronik (64,5%), zidovudin (14,5%), defisiensi besi (6,4%), hemolisis (6,8%), megaloblastik (4,1%), dan thalassemia (3,6%). Analisis multivariabel regresi logistik faktor risiko anemia menunjukkan bahwa jumlah CD4 (OR 1,921-8,66), kandidiasis oral (OR 1,793), IMT rendah (OR 0,368-0,499), dan ARV (OR 0,905), merupakan faktor risiko yang penting. Peluang terbesar untuk terjadinya anemia adalah gabungan dari kandidiasis oral (+), ARV (-), 1MT < 18,5, dan CD4 < 50 (0,899). Terdapat 28 kematian, 26 dari kelompok anemia,pada analisis univariat anemia merupakan faktor risiko penting untuk kematian (RR 18,27). Uji regresi logistik menunjukkan bahwa CD4 (RR 4,018), derajat anemia (RR 2,715), dan IMT (RR 0,187), merupakan faktor risiko independen untuk kematian. Kurva kesintasan Kaplan-Meier menunjukkan bahwa penderita HIV-AIDS dengan anemia sedang-berat menunjukkan angka kematian lebih tinggi dibandingkan dengan penderita HIV-AIDS dengan anemia ringan dan tidak anemia. Gabungan antara derajat anemia sedang-berat, 1MT -
Tidak tersedia versi lain
-
Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.
//






