Pengaruh Kondisi Atmosfera Tropis terhadap Hidrogeologi di daerah Volkanik Berbasis pengolahan citra satelit di cekungan Bandung
ABSTRAK
Lokasi penelitian di Cekungan Bandung dengan letak geografi antara 6° 44' — 7° 13' LS dan antara 107° 19' — 107° 47' BT. ...
-
Code CallNo Lokasi Ketersediaan 01001100100169 551 Sun p/R.14.30 Perpustakaan Pusat (REF.14.30) Tersedia -
Perpustakaan Perpustakaan PusatJudul Seri -No. Panggil 551 Sun p/R.14.30Penerbit Program Pasca Sarjana : Bandung., 2010 Deskripsi Fisik xxxvi,;190 hlm,;29 cmBahasa IndonesiaISBN/ISSN -Klasifikasi 551Tipe Isi -Tipe Media -Tipe Pembawa -Edisi -Subyek Info Detil Spesifik -Pernyataan Tanggungjawab Sunarmo, Sri Hartati -
ABSTRAK
Lokasi penelitian di Cekungan Bandung dengan letak geografi antara 6° 44' — 7° 13' LS dan antara 107° 19' — 107° 47' BT. Kondisi fisik daerah ini sangat kompleks, merupakan dataran danau purba yang dikelilingi oleh pegunungan dan puncak kerucut gunungapi aktif, Susunan geologi dan tipe tanah dibentuk oleh pegunungan volkanik berumur Kuarter. Cekungan Bandung terdiri dari pedataran sempit, lereng gunung bergelombang dan terjai serta puncak gunung. Curahhujan dipengaruhi oleh angin monsunal dan angin lokal.
Kajian hidrogeometeorologi merupakan gabungan antara kajian hidrogeologi dan hidrometeorologi. Komponen hidrogeometeorologi yaitu evapotranspirasi potensial, limpasan permukaan, kelembapan tanah, infiltrasi dan curahhujan. Setiap komponen dihitung berdasarkan kondisi geologi dan meteorologi seperti radiasi matahari, temperatur dan kelembapan udara, fungsi kecepatan angin, tekanan uap air, albedo dan emisifitas, intensitas hujan, tutupan lahan, kemiringan lahan, peta geologi dan tekstur tanah. Teknologi satelit dapat digunakan untuk penghitungan dan penaksiran kondisi fisik atmosfer dan geologi berdasarkan reflektansi dari permukaan bumi. Hubungan antara kondisi fisik atmosfer dan bumi dengan citra Landsat 7ETM+ yang dihubungkan dengan saluran 6, saluran komposit 452, saluran komposit 457, saluran 4 dan 3. Jadi elemen geologi maupun elemen meteorologi dapat dinyatakan dalam nilai piksei citra. Cekungan Bandung dengan permukaan tidak teratur, terdapat banyak daerah yang sulit dijangkau hingga terjadi kelangkaan data pengamatan.
Permasalahannya adalah:
1. Bagaimana radiasi matahari dan gelombang elektromagnetik dapat menjadi perantara dan sebagai penghubung yang melekat antara atmosfera tropis, kajian hidrogeometeorologi dan citra satelit Landsat 7ETM+.
2, Bagaimana menghubungkan elemen meteorologi dengan elemen geologi di daerah volkanik di Cekungan Bandung sehingga terjadi perpaduan analisis yang simultan dan komprehensif berbasis citra Landsat 7ETM+.
3. Bagaimana menjelaskan bahwa kajian dan analisis hidrogeometeorologi berbasis citra Landsat 7ETM+ dapat digunakan menanggulangi kelangkaan data di Cekungan Bandung, hingga mencakup daerah-daerah yang sulit dijangkau.
4. Sejauh mana kajian dan analisis hidrogeometeorologi berbasis citra Landsat 7ETM+ dapat dimanfaatkan untuk melakukan penghitungan dan penaksiran komponennya hingga dapat meningkatkan pengelolaan dan pemantauan permasalahan air di Cekungan Bandung.
Metoda yang digunakan : pemrosesan citra Landsat 7 ETM+ menggunakan perangkat lunak ErMapper; melakukan konversi unsur-unsur dan komponen-komponen hidrogeometeorologi dengan penghitungan dan penaksiran menggunakan persamaan matematika dan teknologi SIG; konversi empiris intensitas hujan menggunakan regresi Tinier hukum pangkat dan teknik isohiet dari curahhujan; pembuatan citra fungsi kecepatan angin pada 2 m dengan konversi data pada 10 m dan analisa spasial menggunakan persamaan profil angin dan SIG; penghitungan dan penaksiran citra komponen-komponen hidrogeometeorologi seperti evapotranspirasi potensial menggunakan metoda Penman, limpasan permukaan menggunakan metoda Rasional, kelembapan tanah menggunakan metoda Zhiming Than; untuk membuktikan kebenaran hipotesis menggunakan uji hipotesis korelasi nonparametrik Rank Spearman dan uji-t untuk jumlah sampel lebih kecil terhadap populasi (Sugiono, 2008).
Hasil yang diperoleh :
1. Persamaan korelasi antara temperatur udara basil pengamatan dengan nilai piksel citra temperatur permukaan tanah adalah y = 0,541x + 12,75 dengan koefisien R = 0,870 dan hasil uji Phit„ng = 0,898 > ptabei = 0,708 pada signifikansi 99%; dan persamaan korelasi antara kelembapan udara hasil pengamatan dengan nilai piksel cilia temperatur udara adalah y = -0,052x + 1,898, dengan koefisien korelasi R = -0,946 dan hasil uji pb,tang = 0,946 > Ptabel = 0,857 pada signifikansi 95%. Dengan demikian maka kedua persamaan dapat digunakan untuk melakukan penaksiran citra temperatur dan kelembapan udara berbasis citra Landsat 7ETM+. Demikian juga untuk penghitungan dan penaksiran elemen meteorologi lain dalam bentuk citra;
2. Persamaan korelasi antara kelembapan tanah hasil pengamatan dengan nilai piksel citra temperatur permukaan tanah y = 0,541x + 0,294, dengan koefisien korelasi R = 0,690 dan hasil uji phitung = 0,760 > ptabe = 0,708 pada signifikansi 99%. Hubungan yang diperoleh sangat kuat hingga persamaan korelasi dapat digunakan untuk melakukan penaksiran citra kelembapan tanah berbasis Landsat 7ETM+;
3. Hasil analisis citra-citra menghasilkan korelasi sangat kuat antara citra intensitas hujan dengan citra infiltrasi dengan koefisien korelasi R = 0, 962. Hasil analisis dari 50 buah titik sampel pada koordinat yang sama antara intensitas hujan dengan infiltrasi diperoleh persamaan korelasi y = 0,916 x -+-0,880 ; R --- 0,939 ; pHit„„g = 0.901 dan thitang(14.353) > ttahel (2,686) pada tingkat kepercayaan 99%;
4. Analisis citra-citra juga menghasilkan korelasi sangat kuat antara citra evapotranspirasi dengan citra kelembapan tanah dengan koefisien korelasi R = - 0,772; sedangkan korelasi antara 50 buah titik sampel pada koordinat yang sama menghasikan persamaan korelasi y = -110,710x + 56,648 ; R = 0,940 ; PHaung = -0.935 dan thitung = 18,293 > ttabe = 2,686 pada tingkat kepercayaan
xi
99%. Uji kedekatan menunjukkan bahwa hasil pembandingan antara keduanya tidal( memberikan perbedaan yang signifikan.
Kesimpulannya adalah:
1. Antara elemen meteorologi dengan nilai piksel citra Landsat 7ETM+ mempunyai hubungan sangat erat. Hal ini ditunjukkan dengan adanya korelasi Tinier positif sangat kuat antara temperatur udara hasil pengamatan dengan nilai piksel citra satelit dan adanya korelasi tinier negatif kuat antara kelembapan udara dengan nilai piksel citra Landsat 7 ETM+ saluran 6.
2. Antara kondisi geologi dengan nilai piksel citra Landsat 7ETM+ mempunyai hubungan sangat erat. Hal ini ditunjukkan dengan adanya korelasi tinier positif kuat antara data pengamatan kelembapan tanah dengan nilai piksel hasil anatisis citra Landsat 7 ETM+ saluran 6.
3. Analisis hidrometeorologi berbasis citra Landsat 7 ETM+ dan teknologi SIG di Cekungan Bandung dapat digunakan untuk menanggulangi kelangkaan data pengamatan stasiun. Hal ini ditunjukkan oleh hasil-hasil perhitungan dan penaksiran dan operasi citra-citra yang menghasilkan citra barn, seperti citra evapotranspirasi, citra limpasan permukaan dan citra kelembapan tanah. Serta ditunjukkan dengan alanya korelasi positif sangat kuat antara citra intensitas hujan dengan citra infiltrasi dan korelasi negatif sangat kuat antara citra evapotranspirasi dengan citra kelembapan tanah.
4. Hasit yang diperoleh dari rangkaian pengolahan di Cekungan Bandung dapat dijadikan "prototipe analisis hidrogeometeorologi" berbasis citra Landsat 7 ETM+ dan teknologi SIG. Hal ini ditunjukkan dengan uji kedekatan dari basil korelasi citra dengan citra dan hasil korelasi titik dengan titik dari 50 buah titik sampel pada koordinat yang sama serta proses perhitungan dan penaksiran menggunakan persamaan neraca air permukaan dan melakukan klasifikasi zona resapan air hujan di Cekungan Bandung menggunakan sistem pembobotan dengan operasi citra-citra (metoda PLG, 200
-
Tidak tersedia versi lain
-
Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.
//






