Detail Cantuman

Image of Pengaruh prekursor triptofan terhadap pertumbuhan dan kandungan katarantin kultur agregat sel tapak dara (catharanthus roseaus)(L.) G. Don) dalam erlenmeyer dan bioreaktor airlift

 

Pengaruh prekursor triptofan terhadap pertumbuhan dan kandungan katarantin kultur agregat sel tapak dara (catharanthus roseaus)(L.) G. Don) dalam erlenmeyer dan bioreaktor airlift


PENGARITH PREKURSOR TRIPTOFAN TERHADAP PERTUIVIBUHAN
DAN KANDUNGAN KATARANTIN KULTUR AGREGAT SEL
TAPAK DARA (Catharantbus roseus (L) G. ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    01001100100243571 Pan p/R14.44Perpustakaan Pusat (REF.14.44)Tersedia
  • Perpustakaan
    Perpustakaan Pusat
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    571 Pan p/R14.44
    Penerbit Program Pasca Sarjana : Bandung.,
    Deskripsi Fisik
    xxv,;223 hlm,;29 cm
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    571
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • PENGARITH PREKURSOR TRIPTOFAN TERHADAP PERTUIVIBUHAN
    DAN KANDUNGAN KATARANTIN KULTUR AGREGAT SEL
    TAPAK DARA (Catharantbus roseus (L) G. Don) DALAM ERLENMEYER
    DAN BIOREAKTOR AIRLIFT
    Oleh
    Dingse Pandiangan
    140130060009
    Disertasi Doktor, Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran
    Di bawah bimbingan H. Karyono, Rizkita Rahmi Esyanti dan Anas Subareas
    ABSTRAK
    Banyak cara untuk meningkatkan kandungan metabolit sekunder dalam kultur jaringan, salah sate diantaranya adalah dengan penambahan pra7at (prekursor). Oleh karena itu telah dilakukan penelitian mengenai peningkatan produksi katarantin dalam kultur agregat sel C.roseus melalui penambahan triptofan sebagai prekursor dalam Erlenmeyer dan biorekator airlift yang didukung dengan pertumbuhan yang optimum. Penelitian ini menggunakan teknologi kultur in vitro dalam bioreaktor airlift bervolume 1,5 liter dengan sistim bacth. Penelitian dilakukan secara eksperimental di laboratorium pada 4 tahap. Konsentrasi prekursor triptofan digunakan dari 0-300 mg/L pada kultur kalus dan 0-250 mg/L pada kultur agregat sel. Pertumbuhan ditentukan dengan penimbangan berat basah dan berat kering serta pengamatan perubahan secara visual. Pemisahan protein digunakan metoda elektroforesis gel polia.krilamida¬SDS. Aktivitas TDC ditentukan dengan spektrofluorometer. Penentuan kandungan katarantin, IAA dan triptamin diukur dengan menggunakan Kromatografi Cain Kinerja Tinggi. Pertumbuhan dan kandungan katarantin kalus tapak dara meningkat sampai pada perlakuan optimum (triptofan 200 mg/L), Perlakuan triptofan dapat memperpanjang masa kultur kalus sampai 40 hari. Penambahan triptofan 150 mg/L meningkatkan pertumbuhan dan memperpanjang masa tumbuh agregat sel C.roseus. Pertumbuhan dan kandungan katarantin agregat sel tertinggi yang diberi perlakuan triptofan terjadi pada hari ke-14. Berat inokulum dan aerasi yang optimum untuk pertumbuhan maksimum adalah berat inokulum 30 g dengan aerasi 0,15 L/min dalam bioreaktor airy. Pertumbuhan maksimum kultur agregat sel terjadi pada perlakuan triptofan 200 mWL pada bioreaktor. Sel yang silinder atau memanjang paling banyak pada kultur agregat sel perlakuan triptofan 150 mg/L. Pertumbuhan dan kandungan katarantin yang optimum akibat perlakuan triptofan sejalan dengan penambahan ratio atau panjang sel. Penambahan triptofan dapat menginduksi sintesis protein dan aktivitas TDC pada kultur agregat sel C. roseus. Aktivitas TDC tertinggi terjadi pada perlakuan 250 mg/L setelah 10-14 hari kultur. Perlakuan triptofan menimbulkan protein barn terutama pita protein 30 dan 50 kDa pada hari ke 14 kultur. Perlakuan triptofan

    dapat meningkatkan kandungan katarantin, IAA dan triptamin pada konsentrasi optimum (150-200 mg/L) setelah 14 hari kultur dalam Erlenmeyer. Berbeda dengan kultur pada bioreaktor, bahwa kandungan katarantin dan IAA meningkat, tapi triptamin menurun pada konsentrasi triptofan optimum (150-200 mg/L). Kandungan katarantin maksimum terjadi pada perlakuan T3 (150 mg/L) yaitu sebesar 50,96+1,87 lig/g bk pada Erlenmeyer dengan peningkatan 481,72 % dan pada perlakuan BT4 (200 mg/L) pada bioreaktor adalah 63,12+0,76 pg/g bk dengan peningkatan 301,74 %. Kesimpulannya adalah perlakuan prekursor triptofan dapat meningkatkan pertumbuhan dan kandungan katarantin pada konsentrasi optimum pada 150 mg/L dalam Erlenmeyer dan 200 mg/L dalam bioreaktor setelah 14 hari kultur.
    Kata Kunci: Kandungan Katarantin, Prekursor Triptofan, Agregat sel, Catharanthus roseus, Bioreaktor airlift, Pertumbuhan
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi