Detail Cantuman

Image of Kontruksi Identitas Diri Dan Pengalaman Komunikasi Pasangan Suami Istri Penyandang Tunanetra : Studi Fenomenologi Kontruksi Identitas Diri Pasangan Suami Istri Penyandang Tunanetra Di Kota Bandung

 

Kontruksi Identitas Diri Dan Pengalaman Komunikasi Pasangan Suami Istri Penyandang Tunanetra : Studi Fenomenologi Kontruksi Identitas Diri Pasangan Suami Istri Penyandang Tunanetra Di Kota Bandung


Penelitian ini dimaksudkan untuk memahami dan menemukan makna yang
telah dikonstruksi oleh pasangan suami istri penyandang tunanetra yaitu ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    010030007566302.2 Riz k/R.21.257Perpustakaan PusatTersedia
  • Perpustakaan
    Perpustakaan Pusat
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    302.2 Riz k/R.21.257
    Penerbit magister Ilmu komunikasi Unpad : Bandung.,
    Deskripsi Fisik
    261 hlm,;29 cm
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    302.2 Riz k
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    2016
    Subyek
    Info Detil Spesifik
    Tesis
    Pernyataan Tanggungjawab
  • Penelitian ini dimaksudkan untuk memahami dan menemukan makna yang
    telah dikonstruksi oleh pasangan suami istri penyandang tunanetra yaitu mengenai
    identitas diri mereka sebagai penyandang tunanetra, motif pasangan suami istri
    penyandang tunanetra menikah, serta untuk mengungkap perilaku komunikasi
    keluarga penyandang tunanetra baik dengan pasangan, anak, keluarga, lingkungan
    masyarakat dan pekerjaan. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan
    metode fenomenologi. Subjek dalam penelitian ini adalah pasangan suami istri
    penyandang tunanetra di Kota Bandung dengan klasifikasi kebutaan yang
    beragam. Data diperoleh dengan melakukan wawancara mendalam, observasi, dan
    studi komunikasi kepada keenam informan. Hasil dari penelitian ini adalah para
    penyandang tunanetra dalam memaknai dirinya sebagai penyandang tunanetra
    dipengaruhi oleh berbagai kerangka pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki
    serta proses kebutaan yang terjadi. Para pasangan suami istri penyandang
    tunanetra memiliki motif yang beragam dalam memutuskan untuk menikah,
    diantaranya adalah untuk menyempumakan agama, mencari teman hidup, mencari
    perlindungan, agar memiliki keturunan, agar ada tempat berbagi, dan ingin
    membuktikan kepada masyarakat bahwa mereka pun bisa membangun sebuah
    rumahtangga di tengah keterbatasan yang dimiliki. Para keluarga penyandang
    tunanetra terkesan tertutup dan lebih memilih menghabiskan waktu mereka di
    dalam rumah karena terdapat beberapa diskriminasi dan labelling dari masyarakat
    mengenai keberadaan mereka. Hal tersebut berpengaruh terhadap psikologis dan
    perkembangan interaksi anak dari pasangan tunanetra di lingkungan rurnah.
    Dalam membesarkan anak-anak mereka yang memiliki penglihatan normal, para
    pasangan suami istri penyandang tunanetra memasangkan gelang kaki krincing
    kepada anak mereka dan mengikat tangan anak mereka dengan tangannya dengan
    tujuan agar tidak kehilangan jejak saat pengasuhan di rumah. Meski memiliki
    kendala dalam penglihatan tetapi para penandang tunanetra dalam penelitian ini
    memiliki kelebihan dalam pemaksimalan indera-indera lainnya. Mereka memiliki
    kepekaan terhadap suara, indera peraba, penciuman, dan felling yang kuat dalam
    menjalani kehidupan.
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi