Detail Cantuman

No image available for this title

Text  

Pembuatan dan Karakterisasi Polimorf Efavirenz dari Pelarut Petroleum Eter Dengan Variasi Konsentrasi


Polimorfisme merupakan suatu sifat molekul obat dengan rumus kimia yang sama namun memiliki bentuk kristal yang berbeda-beda. Efavirenz (EFV) ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    01021161000180Tersedia
  • Perpustakaan
    Fakultas Farmasi
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    3473
    Penerbit Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran : .,
    Deskripsi Fisik
    -
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    3473
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    NULL
    Subyek

    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • Polimorfisme merupakan suatu sifat molekul obat dengan rumus kimia yang sama namun memiliki bentuk kristal yang berbeda-beda. Efavirenz (EFV) merupakan salah satu senyawa obat yang mengalami fenomena polimorfisme. Penelitian ini bertujuan untuk membuat polimorf efavirenz serta karakterisasinya dibandingkan dengan polimorf bentuk I, bentuk yang paling stabil menurut paten. Metode dalam penelitian ini terdiri atas pemeriksaan bahan baku, pembuatan polimorf efavirenz serta karakterisasi polimorf menggunakan mikroskop polarisasi, difraksi sinar-X serbuk, uji kelarutan dan uji disolusi. Polimorf dibuat dengan cara metode rekristalisasi dengan penguapan menggunakan pelarut petroleum eter dalam dua variasi konsentrasi yaitu 1200 mg/10 ml (EFV-PE 1) dan 2700 mg/10 ml ( EFV-PE 2), sedangkan sebagai pembanding digunakan polimorf efavirenz dari pelarut asetonitril. Hasil karakterisasi polimorf menggunakan mikroskop polarisasi menunjukka habit kristal yang berbeda diantara polimorf efavirenz dari petroleum eter dan asetonitril, konfirmasi hasil difraksi sinar X (XRPD) menunjukkan polimorf yang terbentuk berupa kristalin dengan pola difraktogram yang berbeda satu sama lainnya. Hasil uji kelarutan pengocokan 24 jam menunjukkan kelarutan EFV-PE 1 tinggi sebesar 60 % dan kelarutan polimorf EFV-PE 2 lebih tinggi sebesar 50% terhadap polimorf EFV-asetonitril, sedangkan hasil uji pengocokan 48 jam , kelarutan polimorf EFV-PE masing-masing lebih tinggi sebesar 10% terhadap polimorf EFV-Asetonitril. Pada uji disolusi EFV PE 1 memiliki laju disolusi 8,3% lebih tinggi daripada efv- asetonitril, sedangkan EFV-PE 2 memiliki laju disolusi 7,1% lebih rendah dari EFV- asetonitril. Sehingga dapat disimpulkan bahwa polimorf yang terbentuk merupakan polimorf yang berbeda.

    Kata kunci : Polimorfisme, Efavirenz, Rekristalisasi, Kelarutan, Disolusi
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi