Detail Cantuman

Image of Analisis faktor penyebab konversi kawasan hutan lindung mangrove ke tambak berkaitan dengan pengelolaannya di wilayah pesisirkota singkawang kalimantan barat

 

Analisis faktor penyebab konversi kawasan hutan lindung mangrove ke tambak berkaitan dengan pengelolaannya di wilayah pesisirkota singkawang kalimantan barat


SLAMET JUMAEDI, Analis Faktor Penyebab Konversi Kawasan Hutan
Lindung Mangrove ke Tambak Berkaitan Dengan Pengelolaannya di Wilayah

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    01001120700429388.1 Jum a/R.23.3Perpustakaan Pusat (REF.3)Tersedia
  • Perpustakaan
    Perpustakaan Pusat
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    388.1 Jum a/R.23.3
    Penerbit magister perikanan Unpad : Bandung.,
    Deskripsi Fisik
    xvi, 158 hlm. ; ill. ; 29 cm.
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    388.1 Jum a/R.23.3
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • SLAMET JUMAEDI, Analis Faktor Penyebab Konversi Kawasan Hutan
    Lindung Mangrove ke Tambak Berkaitan Dengan Pengelolaannya di Wilayah
    Pesisir Kota Singkawang Kalimantan Barat. Dibimbing oleh OTONG SUHARA
    DJUNAEDI dan ZAHIDAH HASAN

    Jenis vegetasi mangrove yang terdapat di lokasi penelitian (dalam transek)
    terdiri dari Avicennia alba, Sonneratia alba, Rhizophora mucronata, dan
    Excoecaria agallocha. Indeks Nilai Penting (INP) vegetasi mangrove untuk
    tingkat pohon tertinggi terdapat pada jenis Avicennia alba yaitu 265,95,
    Sonneratia alba (25,10), Rhizophora mucronata (8,96), dan Excoecaria agallocha
    (0,00). INP yang besar pada jenis Avicennia alba dan Sonneratia alba
    menunjukan bahwa jenis ini merupakan jenis yang paling dominan dan mampu
    menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan yang ada, sehingga jika ada upaya
    rehabilitasi terhadap kawasan yang rusak, maka prioritas utama jenis vegatasi
    mangrove yang ditanam adalah Avicennia alba kemudian diikuti Sonneratia alba
    lalu Rhizophora mucronata dan Excoecaria agallocha.

    Nilai total manfaat ekonomi mangrove di Pesisir Kota Singkawang adalah
    sebesar Rp. 248.184.754,76/ha/thn atau sekitar 7 (tujuh) kali lebih besar jika
    bandingkan dengan nilai ekonomi tambak yang sebesar Rp. 35.425.000,00
    /ha/thn. Hal ini menunjukan bahwa lebih menguntungkan mangrove dibiarkan
    dalam kondisi lestari daripada dikonversi menjadi tambak. Begitu juga apabila
    nilai ekonomi tambak dibandingkan dengan nilai manfaat langsung ekosistem
    mangrove (Rp. 78. 178.363,03/ha/thn), maka nilai ekonomi tambak tetap lebih
    kecil.

    Faktor penyebab utama konversi ekosistem mangrove menjadi tambak di
    wilayah pesisir Kota Singkawang adalah (1) Tingginya kebutuhan ekonomi dan
    kurangnya kesadaran kepentingan ekologis serta kepedulian masyarakat akan
    dampak lingkungan, (2) Proses penetapan kawasan menjadi hutan lindung bakau
    Berdasarkan SK MenHut No. 259/kpts-II/2000 dilakukan tanpa sepengetahuan
    dan tanpa melibatkan masyarakat yang sudah mendiami kawasan ini secara turun
    temurun. Hal ini yang mengakibatkan terjadinya perusakan hutan mangrove berat
    oleh masyarakat yang ditimbulkan karena kekecewaan masyarakat pesisir Kota
    Singkawang yang tentunya akan berdampak pada masa yang akan datang.
    Kemudian rendahnya kesadaran masyarakat tentang konversi dan fungsi
    ekosistem mangrove. (3) Berdasarkan Parameter fisik lingkungan mangrove yang
    di amati terdiri dari Suhu Air, KekeruhanlTurbiditas, Kecerahan Perairan Laut,
    dan Gelombang, untuk variabel kimiawi lingkungan mangrove yang diamati
    adalah Salinitas, Derajat Keasaman (pH air), Oksigen Terlarut (DO), dan
    Kandungan Unsur Hara (Nutrient) di wilayah pesisir Kota Singkawang yang mana
    kondisi fisik kimiawi ekosistem mangrove sangat baik dan sangat dimungkinkan
    untuk budidaya tambak udang, Reklamasi seperti ini telah memusnakan ekosistem

    VI

    mangrove dan juga mengakibatkan efek - efek yang negatif terhadap perikanan di
    perairan pantai pesisir Kota Singkawang. Selain itu kehadiran saluran-saluran
    drainase mengubah sistem hidrologi air tawar di daerah mangrove yang masih
    utuh yang terletak ke arah laut menjadi tidak berfungsi dan hal ini mengakibatkan
    dampak negatif. Hal ini ditunjang dari pandangan masyarakat terhadap
    pengelolaan ekosistem mangrove yang hanya sebesar 49.1 %, artinya masyarakat
    masih memandang pengelolaan Ekosistem Mangrove di Pesisir Kota Singkawang
    selama ini berjalan kurang baik.

    Alternatif solusi untuk mengatasi pemasalahan dalam pengelolaan
    ekosistem mangrove di Pesisir Kota Singkawang adalah dengan memperbaiki dan
    memperkuat struktur kelembagaan agar lebih efektif sehingga menghasilkan
    performance ekosistem mangrove yang lebih baik. Hal ini dilakukan dengan cara:
    (1) merevisi tapal batas (zonasi) kawasan hutan lindung mangrove, sehingga tidak
    ada hakllahan masyarakat yang masuk ke dalam kawasan hutan lindung
    mangrove; (2) memberikan akses terbatas kepada masyarakat untuk tetap dapat
    mengusahakan budidaya tambak udang sistem silvofishery (80% (tambak) : 20%
    (Mangrove)) dengan aturan dan kewajiban-kewajiban tertentu yang dituangkan
    dalam kesepakatan konservasi (kontrak sosial). Jenis mangrove yang ditanam
    hendak jenis yang cocok untuk daerah tersebut yaitu Avicennia alba dan
    Sonneratia alba.

    Berdasarkan hasil perhitungan analisis usaha yang meliputi analisis
    pendapatan usaha, analisis imbangan penerimaan dan biaya (R-C Ratio), analisis
    waktu pengembalian modal (Payback Period), menunjukan bahwa usaha
    budidaya udang galah di pesisir kota singkawang secara semi-intensif lebih
    menguntungkan dibandingkan secara tradisional.
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi