Detail Cantuman

Image of Busana Kaum Menak Priangan 1808 - 1942

 

Busana Kaum Menak Priangan 1808 - 1942


Busana merupakan salah satu aspek dari gaya hidup. Busana menjadi
tanda pengenal seseorang dalam masyarakat. Bagi kaum menak Priangan, busana ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    010011307000959.8 sep b/R.18.254Perpustakaan Pusat (REF.18.254)Tersedia
  • Perpustakaan
    Perpustakaan Pusat
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    959.8 sep b/R.18.254
    Penerbit Magister Psikologi : Bandung.,
    Deskripsi Fisik
    xv, 236 hlm. ; il. ; 29 cm
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    959.8 sep b
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • Busana merupakan salah satu aspek dari gaya hidup. Busana menjadi
    tanda pengenal seseorang dalam masyarakat. Bagi kaum menak Priangan, busana
    merupakan simbol status, simbol kekuasaan mereka terhadap rakyatnya. Menak
    sebagai kaum bangsawan memiliki kekuasaan yang tidak terbatas atas rakyatnya.
    Tidak terbatas artinya adanya anggapan bahwa bupati memiliki kekuatan magis­
    religius yang ditakdirkan oleh Tuhan kepadanya sehingga ia memiliki kekuasaan
    yang mutlak, tunggal, dan menyeluruh. Oleh karena itu, untuk meneguhkan
    kekuasaannya diciptakanlah simbol-simbol seperti busana, hiasan-hiasan dalam
    busana: kancing dan sulaman, perlengkapan-perlengkapan kebesaran yang diatur
    dalam staatsblad. Aturan berbusana tersebut perlahan-lahan mulai ditinggalkan
    seiring dengan terjadinya pembaratan di Hindia Belanda pada umunya dan di
    Priangan khususnya mulai akhir ab ad ke-19 sampai awal abad ke-20. Pada masa
    itu, busana-busana din as bupati yang diatur dalam peraturan khusus mulai tergeser
    oleh busana-busana gaya Eropa seperti jas, kemeja, dan celana pantalon. Hal yang
    paling menonjol pada masa itu adalah perubahan busana perempuan. perubahan
    yang esensial terjadi pada pemakaian wama dan hiasan, serta motifkebaya. Untuk
    melakukan penelitian ini diperlukan suatu metode sistematis. Penelitian ini
    menggunakan metode sejarah yang meliputi empat tahapan kerja yaitu heuristik,
    kritik, interpretasi, dan historiografi. Selain itu, digunakan pula konsep dan teori
    dari ilmu politik, antropologi politik, dan budaya visual. Dari penelitian ini dapat
    disirnpulkan bahwa aturan busana yang ditetapkan oleh Pemerintah Belanda
    sesungguhnya menunjukkan turunnya kewibawaannya rnereka. Hal ini disebabkan
    kedudukan bupati dalarn struktur birokrasi kolonial berada di bawah kekuasaan
    Pernerintah Belanda. Oleh karena itu tidak rnengherankan jika aturan berbusana
    tersebut menggunakan sirnbol-sirnbol Belanda. Narnun dernikian, aturan tersebut tergeser ketika kaum rnenak memperoleh pendidikan barat dan mulai
    menggunakan bus ana gaya Eropa. Penggunaan busana gaya Eropa semakin sering
    terlihat dengan dibukanya toko bus ana dan penjahit. Selain itu juga, pendidikan
    barat menjadi salah satu faktor munculnya kesadaran berpenarnpilan di kalangan
    perempuan menak.
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi