Dinamika Sosial Dalam Mewujudkan Toleransi Beragaman (Studi Kasus Program "Bandung Kota Agamis")
Fakta adanya keragaman keyakinan, di satu sisi, menjadi modal berharga bagi terbangunnya toleransi beragama, namun di sisi lain memiliki potensi ...
-
Code CallNo Lokasi Ketersediaan 01001120100220 301 Saf d/17.35 Perpustakaan Pusat (REF.17.35) Tersedia -
Perpustakaan Perpustakaan PusatJudul Seri -No. Panggil 301 Saf d/17.35Penerbit Program Pascasarjana Unpad : Bandung., 2012 Deskripsi Fisik xv,;310 hlm,;29 cmBahasa IndonesiaISBN/ISSN -Klasifikasi 301 Saf dTipe Isi -Tipe Media -Tipe Pembawa -Edisi -Subyek Info Detil Spesifik -Pernyataan Tanggungjawab Agus Ahmad Safei -
Fakta adanya keragaman keyakinan, di satu sisi, menjadi modal berharga bagi terbangunnya toleransi beragama, namun di sisi lain memiliki potensi konflik yang rentan melahirkan sikap dan tindakan intoleransi. Tank ulur di antara kehendak mewujudkan toleransi beragama dengan kecenderungan praktik intoleransi beragama di sisi lain telah menghadirkan dinamika sosial yang menarik dikaji. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan memahami tentang dinamika sosial yang terjadi dalam mewujudkan toleransi beragama di Kota Bandung.
Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori pertukaran sosial dan teori akomodasi. Metode penelitian ini adalah kualitatif. Adapun teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, pengamatan langsung, observasi partisipatoris dan penelaahan dokumen.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Dinamika sosial yang positif terjadi karena masing-masing umat lintas agama lebih mengedepankan toleransi beragama. Pada praktiknya, upaya mewujudkan toleransi beragama tidak dapat dipisahkan dari peran dan keterlibatan pihak pemerintah. Kemunculan program "Bandung Kota Agamis" menunjukkan bahwa agama tidak hanya dapat menjadi modal spiritual di tengah masyarakat, tetapi juga dapat menjadi modal sosial untuk membangun kehidupan yang harmonis dan toleran. Temuan ini sejalan dengan pandangan Jose Cassanova (1994), yang menyatakan bahwa agama dapat melakukan transformasi sosial dengan melakukan deprivatisasi agama, yakni proses di mana agama meninggalkan ruang privat dan memasuki ruang publik guna mengambil peran dan memainkan fungsi sosialnya. (2) Toleransi beragama terhambat karena masih adanya dikotomi "kami" dan "mereka", "mayoritas" dan "minoritas", dalam relasi umat lintas agama yang kemudian melahirkan sikap dan tindakan intoleransi. Praktik intoleransi beragama terjadi dalam bentuk kecurigaan, prasangka sosial, provokasi, intimidasi dan diskriminasi. (3) Terjadinya kontestasi dan kompetisi antarkelompok keagamaan merupakan sifat dasar manusia. Strategi dalam bentuk akomodasi diperlukan untuk mewadahi beragam kepentingan yang berbeda di kalangan umat lintas agama untuk meredakan pertentangan sekaligus menjembatani berbagai perbedaan kepentingan. 'Kehadiran program "Bandung Kota Agamis", relatif merupakan solusi efektif dalam mengikat keragaman asal-usul, etnik, budaya, dan agama. Dalam konteks membangun toleransi beragama, program "Bandung Kota Agamis" telah menjadi benang homogen atau common platform (atau kalimatun sawa' dalam terminologi Islam) yang niengikat berbagai pemeluk agama yang berbeda untuk berintegrasi secara sosial.
-
Tidak tersedia versi lain
-
Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.
//






