Detail Cantuman

Image of Aktivitas Glutathione Peroxidase (Gpx) sebagai penanda keadaan hiperkoagulasi pada penderita pneumoni raawat inap

 

Aktivitas Glutathione Peroxidase (Gpx) sebagai penanda keadaan hiperkoagulasi pada penderita pneumoni raawat inap


Pneumoni rawat inap mempunyai risiko menjadi buruk akibat deposit fibrin di
alveolus karena Tumor Necrosis Factor a (TNFa) meningkatkan kadar ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    01001100100253616.24 Her a/R.13.13Perpustakaan Pusat (REF.13.13)Tersedia
  • Perpustakaan
    Perpustakaan Pusat
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    616.24 Her a/R.13.13
    Penerbit magister kedokteran spesialis : Bandung.,
    Deskripsi Fisik
    xix,; 98 hlm,;29 cm
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    616.24
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    -
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • Pneumoni rawat inap mempunyai risiko menjadi buruk akibat deposit fibrin di
    alveolus karena Tumor Necrosis Factor a (TNFa) meningkatkan kadar Plasminogen
    Activator Inhibitor- I (PAl-I) dan menekan fibrinolisis; sehingga timbul keadaan
    hiperkoagulasi yang dapat diperiksa dengan tes D-dimer. Disisi lain peningkatan
    Reactive Oxygen Species (ROS) mengganggu aktivitas enzim glutathione peroxidase
    (Gpx) yaitui antioksidan endogen yang berfungsi mengkatalisasi reaksi penangkapan
    hydrogen peroksida yang berasal dari ROS oleh Glutathione Sulf Hydril (GSH). Selain
    antioksidan dan antiinflamsi, sampai saat ini belum diketahui bagaimana peran Gpx pada
    kejadian hiperkoagulasi. Oleh karena itu penelitian ini ingin membuktikan peran Gpx
    sebagai penanda hiperkoagulasi dan bagaimana hubungannya dengan kejadian
    hiperkoagulasi. Diharapkan akan terbuka peluang bagi suplementasi GSH sebagai
    pencegahan hiperkoagulasi (yang mengakibatkan pembentukan fibrin di alveolus) karena
    terapi antikogulan sampai saat ini belum memberikan hasil yang memuaskan.

    Penelitian dilakukan di Bagian Penyakit Dalam RS Dr. Hasan Sadikin Bandung
    pada bulan Juni-Juli 2010. Perekrutan dilakukan dengan cara consecutive admission
    sampling. Melalui proses informed consent 44 partisipan pneumonia rawat inap yang
    masuk dalam kriteria inklusi-eksklusi mengikuti penelitian. Satu orang partisipan keluar
    dari penelitian oleh karena jumlah darah tidak mencukupi. Metode penelitian adalah
    observasi analitik metode potong lintang dan uji diagnostik dengan D-dimer sebagai
    standard baku emas. Dari curva ROC diperoleh nilai cut off aktivitas Gpx 22,5 U1grHb
    yang merupakan penanda keadaan hiperkoagulasi. Karena diperoleh sensitifitas 82,4%
    dan spesivitas 44.4%; maka pemeriksaan aktivitas Gpx lebih sesuai untuk tes skrining.
    Dengan nilai cut offini terdapat korelasi yang kuat dan bermakna antara aktivitas Gpx <
    22,5U/grHb dan D-dimer (r=-0,596; p=0,035), begitu juga antara PAI-l dan D-dimer
    (r=O,554; p 1,5 ng/L terdapat hubungan yang bermakna
    antara aktivitas Gpx < 22,5U/grHb dan D-dimer (p=0,024). Dengan analisis logistik
    regresi ganda dari variable perancu yang berrnakna ( Hb dan jenis kelamin) serta aktivitas
    Gpx, temyata aktivitas Gpx < 22,5U1grHb mempunyai pengaruh paling besar terhadap
    kejadian hiperkoagulasi, kemudian diikuti Hb, aktifitas Gpx ::. 22,5U1grHb dan jenis
    kelamin [OR 3,189 Cl 95% (0,436-23,344); OR 0,523 cr 95% (0,294-0,930; OR 0,314 Cl
    95%(0,043-2,296); OR 0,091 Cl 95% (0,010-0,793)]' Pada aktivitas Gpx < 22,5U1grHb maka
    pengaruhnya terhadap hiperkoagulasi sekitar 10 kali dibandingkan dengan aktivitas >
    22,5U1grHb [OR 3,198 Cl 95% (0,436-22,34) vs OR 0,314 Cl 95% (0,043-2,296)].
    Dengan demikian aktivitas Gpx yang rendah yaitu < 22,5U/grHb memegang peranan
    yang penting dalam kejadian hiperkoagulasi.

    Simpulan dari penelitian ini adalah pada penderita pneumonia pemeriksaan
    aktivitas Gpx dengan nilai cut-off 22,5 U/grHb mempunyai korelasi yang kuat dengan
    keadaan hiperkoagulasi; dan bila kadarnya < 22,5U/grHb merupakan penanda
    hiperkoagulasi yang berperan penting karena berkaitan erat dengan aktivasi koagulasi
    pada tahap awai inflamasi yaitu saat terjadi netralisasi ROS. Kebutuhan akan ketersediaan
    GSH dan Gpx yang rriemadai pada saat netralisasi tersebut memberikan peluang bagi
    suplementasi GSH yang merupakan terobosan baru dalam pencegahan hiperkoagulasi;
    sebagai salah satu upaya untuk menurunkan mortabiditas dan mortalitas dari pneumonia.
    Penelitian lanjutan ditujukan untuk mengevaluasi suplementasi GSH pada penderita
    pneumonia sebagai pencegahan hiperkoagulasi sesuai dengan patogenesis yang terungkap
    pada penelitian ini.
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi