Detail Cantuman

Image of Perubahan Kelembaban Kulit Pada Penderita Dermatitis Atopik Setelah Pengolesan Krim Urea 10 %

 

Perubahan Kelembaban Kulit Pada Penderita Dermatitis Atopik Setelah Pengolesan Krim Urea 10 %


Dermatitis atopik (DA) terjadi dari interaksi yang kompleks antara faktor­
faktor genetik, imunologik, farmakologik dan lingkungan. ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    01001040700003615.778 Hoe p/R.13.12Perpustakaan Pusat (REF.13.12)Tersedia
  • Perpustakaan
    Perpustakaan Pusat
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    615.778 Hoe p/R.13.12
    Penerbit magister kedokteran spesialis : Bandung.,
    Deskripsi Fisik
    xvi,; 84 hlm,;29 cm
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    615.778
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • Dermatitis atopik (DA) terjadi dari interaksi yang kompleks antara faktor­
    faktor genetik, imunologik, farmakologik dan lingkungan. Perjalanan penyakitnya
    dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan dan biologik yang disebut sebagai 'flare
    factors', diantaranya adalah kulit kering. Pada kulit penderita DA terjadi gangguan
    fungsi sawar epidermal, ditandai dengan kandungan air stratum komeum / skin
    capasitance (SC) yang lebih rendah dan transepidermal water loss (TEWL) yang
    lebih tinggi bila dibandingkan dengan kulit normal. Akibat kulit yang kering tersebut,
    ambang rangsang gatal menjadi rendah, menimbulkan sensasi dan rangsangan
    menggaruk. Garukan menjadi pencetus kerusakan kulit yang dapat menimbulkan
    sensasi gatal dan terjadi rangsangan untuk menggaruk secara berulang, dikenal
    sebagai fenomena siklus gatal-garuk-gatal. Pemberian pelembab merupakan pilihan
    terapi untuk memperbaiki kekeringan kulit pada DA dan dapat mengurangi gatal.
    Pelembab akan meningkatkan nilai SC dengan cara meningkatkan absorbsi air
    perkutan dan menurunkan TEWL. Urea dengan konsentrasi kurang atau sama dengan
    10% berfungsi sebagai pelembab, yang sejak 20 tahun terakhir banyak digunakan
    untuk pengobatan kulit kering.

    Dilakukan penelitian dengan rancang paralel yang bertujuan untuk
    membandingkan perubahan kelembaban kulit yang kering pada penderita DA selama
    penggunaan krim urea 10% selama 2 dan 3 minggu dan setelah penghentian krim
    urea 10%, dengan mengukur SC dan TEWL. Pemilihan subyek penelitian dilakukan
    secara acak antrian terhadap penderita DA berumur diatas atau sama dengan 5 tahun
    yang berobat ke Unit Rawat Jalan IP Kulit dan Kelamin Perjan RS. Dr. Hasan
    Sadikin Bandung. Diagnosis DA ditegakkan berdasarkan kriteria Svensson.
    Pengukuran SC menggunakan komeometer (Komeometer CM 825) dan pengukuran
    TEWL menggunakan Tewameter (Tewameter TM 300). Pelembab yang digunakan
    adalah krim urea 10% dalam vehikulum Na pidolat 2%, Na laktat 2% dan minyak
    nabati.

    Penelitian ini mengikutsertakan subyek penelitian sebanyak 46 penderita DA,
    sedangkan untuk pembanding nilai se dan TEWL awal, diperiksa 21 individu non
    atopi. Subyek penelitian dibagi 2 kelompok, yaitu kelompok I (23 orang) yang
    menggunakan krim urea 10% selama 2 minggu dan kelompok II (23 orang) yang
    menggunakan selama 3 minggu. Pada penelitian ini nilai TEWL tidak dapat
    dievaluasi karena hasilnya tidak beraturan yang kemungkinan disebabkan karena
    banyaknya bias teknis pemeriksaan, sehingga kelembaban kulit hanya dinilai dari
    nilai Se. Dari pengukuran nilai awal didapatkan bahwa kulit penderita DA lebih
    kering dibandingkan dengan individu non atopi, ditandai dengan nilai se yang lebih
    rendah pada DA (SC=40,3) dibandingkan non atopi (SC=52,8) dengan perbedaan
    yang sangat bermakna (p
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi