<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="10655">
 <titleInfo>
  <title>Perubahan Kelembaban Kulit Pada Penderita Dermatitis Atopik Setelah Pengolesan Krim Urea 10 %</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Hoediono, Rachmat</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Bandung</placeTerm>
   <publisher>magister kedokteran spesialis</publisher>
   <dateIssued>2004</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd"></form>
  <extent>xvi,; 84 hlm,;29 cm</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Dermatitis atopik (DA) terjadi dari interaksi yang kompleks antara faktor­ &#13;
faktor genetik, imunologik, farmakologik dan lingkungan. Perjalanan penyakitnya &#13;
dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan dan biologik yang disebut sebagai 'flare &#13;
factors', diantaranya adalah kulit kering. Pada kulit penderita DA terjadi gangguan &#13;
fungsi sawar epidermal, ditandai dengan kandungan air stratum komeum / skin &#13;
capasitance (SC) yang lebih rendah dan transepidermal water loss (TEWL) yang &#13;
lebih tinggi bila dibandingkan dengan kulit normal. Akibat kulit yang kering tersebut, &#13;
ambang rangsang gatal menjadi rendah, menimbulkan sensasi dan rangsangan &#13;
menggaruk. Garukan menjadi pencetus kerusakan kulit yang dapat menimbulkan &#13;
sensasi gatal dan terjadi rangsangan untuk menggaruk secara berulang, dikenal &#13;
sebagai fenomena siklus gatal-garuk-gatal. Pemberian pelembab merupakan pilihan &#13;
terapi untuk memperbaiki kekeringan kulit pada DA dan dapat mengurangi gatal. &#13;
Pelembab akan meningkatkan nilai SC dengan cara meningkatkan absorbsi air &#13;
perkutan dan menurunkan TEWL. Urea dengan konsentrasi kurang atau sama dengan &#13;
10% berfungsi sebagai pelembab, yang sejak 20 tahun terakhir banyak digunakan &#13;
untuk pengobatan kulit kering. &#13;
&#13;
Dilakukan penelitian dengan rancang paralel yang bertujuan untuk &#13;
membandingkan perubahan kelembaban kulit yang kering pada penderita DA selama &#13;
penggunaan krim urea 10% selama 2 dan 3 minggu dan setelah penghentian krim &#13;
urea 10%, dengan mengukur SC dan TEWL. Pemilihan subyek penelitian dilakukan &#13;
secara acak antrian terhadap penderita DA berumur diatas atau sama dengan 5 tahun &#13;
yang berobat ke Unit Rawat Jalan IP Kulit dan Kelamin Perjan RS. Dr. Hasan &#13;
Sadikin Bandung. Diagnosis DA ditegakkan berdasarkan kriteria Svensson. &#13;
Pengukuran SC menggunakan komeometer (Komeometer CM 825) dan pengukuran &#13;
TEWL menggunakan Tewameter (Tewameter TM 300). Pelembab yang digunakan &#13;
adalah krim urea 10% dalam vehikulum Na pidolat 2%, Na laktat 2% dan minyak &#13;
nabati. &#13;
&#13;
Penelitian ini mengikutsertakan subyek penelitian sebanyak 46 penderita DA, &#13;
sedangkan untuk pembanding nilai se dan TEWL awal, diperiksa 21 individu non &#13;
atopi. Subyek penelitian dibagi 2 kelompok, yaitu kelompok I (23 orang) yang &#13;
menggunakan krim urea 10% selama 2 minggu dan kelompok II (23 orang) yang &#13;
menggunakan selama 3 minggu. Pada penelitian ini nilai TEWL tidak dapat &#13;
dievaluasi karena hasilnya tidak beraturan yang kemungkinan disebabkan karena &#13;
banyaknya bias teknis pemeriksaan, sehingga kelembaban kulit hanya dinilai dari &#13;
nilai Se. Dari pengukuran nilai awal didapatkan bahwa kulit penderita DA lebih &#13;
kering dibandingkan dengan individu non atopi, ditandai dengan nilai se yang lebih &#13;
rendah pada DA (SC=40,3) dibandingkan non atopi (SC=52,8) dengan perbedaan &#13;
yang sangat bermakna (p</note>
 <note type="statement of responsibility">Hoediono, Rachmat</note>
 <subject authority="">
  <topic>hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pembe</topic>
 </subject>
 <classification>615.778</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>Perpustakaan Universitas Padjadjaran Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi</physicalLocation>
  <shelfLocator>615.778 Hoe p/R.13.12</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">01001040700003</numerationAndChronology>
    <sublocation>Perpustakaan Pusat (REF.13.12)</sublocation>
    <shelfLocator>615.778 Hoe p/R.13.12</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>20%252Fscan0001.jpg.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>10655</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2017-04-01 15:44:33</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2018-07-04 10:55:05</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>