Detail Cantuman

Image of Pemaknaan Jimat Sebagai Simbol Religi Bagi Mahasiswa Jepang

 

Pemaknaan Jimat Sebagai Simbol Religi Bagi Mahasiswa Jepang


Pemaknaan jimat sebagai simbol religi bagi mahasiswa Jepang (Suatu
Studi Fenomenologi dalam Pemaknaan Jimat sebagai Simbol Religi bagi

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    01001100700031133.44 FAT P/ 21.43Perpustakaan Pusat (REF 21.43)Tersedia
  • Perpustakaan
    Perpustakaan Pusat
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    133.44 FAT P/ 21.43
    Penerbit Magister Ilmu Komunikasi : Bandung.,
    Deskripsi Fisik
    xvii,;130 hlm,;29 cm
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    133.44fat p
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • Pemaknaan jimat sebagai simbol religi bagi mahasiswa Jepang (Suatu
    Studi Fenomenologi dalam Pemaknaan Jimat sebagai Simbol Religi bagi
    Mahasiswa Jepang di UPT Kebahasaan dan Kesenian Universitas Padjadjaran)
    oleh Fatonah, dibawah bimbing Prof. Dr. Hj. Nina Winangsih Syam Ora.MS.
    (ketua) dan DR. Suwandi Sumartias, Drs.M.Si. (anggota).

    Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan data kualitatif melalui
    pendekatan fenomenologi dan interaksi simbolik mengenai jimat (omamori) yang
    digunakan mahasiswa Jepang. Fokus penelitian ini adalah pemahaman dan
    pemaknaan jimat, motif dan alasan menggunakan jimat serta pengaruh jimat
    dalam sikap dan perilaku mahasiswa Jepang sebagai penggunajimat.

    Latar belakang dari penelitian ini adalah dimulai dari ungkapan yang
    mengatakan bahwa "selagi negeri lain di dunia masih di abad ke-20, bangsa
    Jepang sudah masuk abad ke-21" sebegitu majunya mereka dalam hal teknologi
    dan perekonomian, sehingga sulit bagi mereka untuk menyakini keberadaan
    Tuhan dan aturan-aturan agama. Dengan pemikiran agama sangat berat sehingga
    banyak orang J epang yang tidak peduli dengan status agama. Seorang Rahib
    Joodo yang bernama Ippen pada abad ke 13- membuat agama menjadi lebih
    ringan bagi masyarakat Jepang melalui jimat sebagai simbol religi. Yang akhirnya
    diterima luas oleh masyarakat Jepang.

    Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa jimat memiliki makna yang
    dalam, jimat bisa memberi kebahagiaan, keberhasilan dalam pendidikan,
    keselamatan lalulintas, kesehatan, kesuksesan, keamanan dan keselamatan
    berpergian (safety travel). Sementara motif dan alasan memiliki jimat adalah
    untuk menghindari bahaya dan menjaga keselamatan, menumbuhkan rasa percaya
    diri, berhasil lulus ujian dan bisa masuk universitas, sebagai penjaga dan
    pelindung, dan terakhir untuk memudahkan mendapatkan jodoh. Sikap dan
    perilaku mereka dalam pemaknaan jimat dipengaruhi oleh agama, jenis kelamin
    dan usia.

    Simpulannya, pandangan orang Jepang pada pemaknaan religi tidak begitu
    penting, namun demikian mereka tetap membawa Tuhan dalam kehidupan mereka
    melalui cara yang paling sederhana yaitu jimat yang sebagai simbol religi yang
    menjadi konsep diri mereka. Pada akhirnya, Inilah yang dinamakan realitas, kita
    akan melihatnya melalui kacamata realitas yang digagaskan Schutz, "realitas yang
    diterima apa adanya" (taken-for-granted reality). Saran untuk penelitian lebih
    lanjut, sebaiknya langsung ke negara J epang untuk melihat lebih dekat budaya,
    norma-norma, pandangan hidup, agama dan ritual yang dianut.
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi