<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="10460">
 <titleInfo>
  <title>SEKSUALITAS DAN KEKUASAAN PEMERINTAH (Analisis Implementasi Kebijakan Penanganan Pelacuran di Kota Bandung)</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Teza Yudha</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Bandung</placeTerm>
   <publisher>Magister Ilmu Sosial Dan Politik</publisher>
   <dateIssued>2016</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd"></form>
  <extent>xvi,; 208 hlm,;29 cm</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Gagasan tentang seksualitas sebagai sebuah realitas yang dirasakan tabu &#13;
kini telah mendapatkan tempatnya untuk diperbincangkan. Seksualitas dijadikan &#13;
ajang rekreasi serta suatu keniscayaan biologis sebagai pelampiasan hasrat dan &#13;
nafsu birahi yang hakiki, namun di sisi lain seksualitas juga direpresi. Sampai &#13;
kemudian Foucault memperlihatkan bahwa seksualitas bukanlah semata dorongan &#13;
yang bersifat biologis, tetapi merupakan bentuk prilaku dan pikiran yang &#13;
ditundukan atau ditempa oleh relasi-relasi kekuasaan yang dijalankan untuk tujuan­ &#13;
tujuan yang lain di luar kepentingan seksualitas itu sendiri. Kekuasaan inilah yang &#13;
digunakan sebagai &quot;kontrol sosial&quot;, keputusan hukum, bingga pengaturan &#13;
pemerintah terhadap kebebasan seksualitas melalui tindakan represif. &#13;
&#13;
t Pengaturan seksualitas masyarakat yang dipaksakan secara sah oleh &#13;
pemerintah terjadi hampir di setiap daerah di Indonesia. Pemerintahan di daerah &#13;
meratifikasinya dengan membuat berbagai kebijakan yang dituangkan melalui &#13;
peraturan daerah. Dengan muatan politis dan alasan menganggu ketertiban, segala &#13;
tindak tanduk pemenuhan hasrat di luar dari yang sudah termaktub dalam aturan­ &#13;
aturan yang disahkan oleh pemerintah langsung dihabisi. Padahal secara &#13;
fenomenologis yang seringkali terjadi justru sebaliknya, semakin seksualitas &#13;
dilarang bebas justru dengan sendirinya seksualitas akan mencari jalan-jalan &#13;
kebebasan. Maka seks bebas melebur diri menjadi pelacuran atau prostitusi, yang &#13;
tumbuh dan berkembang bersama globalisasi yang tidak dapat ditolak. &#13;
&#13;
Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengkaji dan menganalisa &#13;
fenomena'seksualitas dan keterkaitannya dengan kekuasaan pemerintah berikut &#13;
aspek-aspek yang melingkupinya. Kota Bandung merupakan kota besar dan salah &#13;
satu kota tujuan pariwisata di Indonesia dengan jumlah wanita pekerja seks yang &#13;
cukup banyak. Salah satu lokasi pelacuran yang cukup terkenal di Kota Bandung &#13;
yaitu Saritem, meski pada Tahun 2007 silam telah resmi disegel dan ditutup. &#13;
Namun, pembubaran lokasi tersebut tidak serta merta menyelesaikan dan &#13;
menghabisi fenomena pelacuran di Kota Bandung. &#13;
&#13;
Hasil penelitian dapat digambarkan bahwa sampai saat ini meskipun Kota &#13;
Bandung telah menutup lokasi pelacuran terbesarnya, serta sudah selama satu &#13;
dasawarsa lebih melakukan penanganan pelacuran melalui Perda Nomor 3 dan &#13;
Nomor 11 Tahun 2005 tentang K3 namun semua upaya itu dianggap tidak berhasil. &#13;
Tindakan penertiban Saritem, pengganyangan serta penangkapan para wanita &#13;
pelacur, lalu peran dan eksistensi mereka dirudapaksa, semuanya tidak serta merta &#13;
mampu memecahkan persoalan ini. Karena Pelacur hanyalah korban kemiskinan &#13;
dan ketidakberdayaan yang dilahirkan dari rahim induk semang, yang dibuahi oleh &#13;
sperma para germo. Maka sesungguhnya pelacuran adalah anak kandung &#13;
ketidakadilan hasil hubungan gelap dari perselingkuhan mucikari dengan &#13;
kekuasaan pemerintah.</note>
 <note type="statement of responsibility">Teza Yudha</note>
 <subject authority="">
  <topic>Seksualitas, Pemerintah, Kebijakan, Penanganan, Pe</topic>
 </subject>
 <classification>320 Tez s</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>Perpustakaan Universitas Padjadjaran Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi</physicalLocation>
  <shelfLocator>320 Tez s/R.17.76</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">010030007605</numerationAndChronology>
    <sublocation>Perpustakaan Pusat</sublocation>
    <shelfLocator>320 Tez s/R.17.76</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>20%252Fscan0001.jpg.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>10460</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2017-04-01 15:42:29</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2019-03-04 10:14:13</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>